![]() |
| Nilai tukar rupiah melemah 0,44 persen ke level Rp17.840 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dunia ke level US$90 per barel dan tekanan geopolitik. | Ilustrasi Foto AI |
Executive Summary ▼
- Rupiah anjlok ke Rp17.840 per dolar AS, Dipicu lonjakan harga minyak dunia hingga US$90 per barel dan ketegangan geopolitik.
- Defisit neraca migas US$15,77 miliar di semester I 2026 memperburuk tekanan.
- Pelemahan serupa terjadi di sebagian besar Asia dan menekan pasar obligasi domestik.
Nilai tukar rupiah terkoreksi 0,44 persen hingga mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.840 per dolar AS. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus kisaran US$90 per barel mengikis penguatan harian mata uang Garuda. Mengutip berdasar laporan BloombergTechnoz Tuntutan kompensasi Presiden Donald Trump terhadap Iran atas korban konflik memicu ketidakpastian baru, memperkeruh prospek pembukaan kembali rute perkapalan Selat Hormuz.
Pelemahan mata uang terjadi merata di kawasan Asia. Peso Filipina mencatatkan penurunan terparah 0,86 persen, disusul baht Thailand, rupiah, dolar Taiwan, rupee India, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan yuan offshore. Won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang yang menguat tipis 0,03 persen. Tekanan berlanjut ke pasar obligasi domestik tenor pendek melalui aksi jual massal; yield tenor 5 tahun melonjak 4,9 basis poin (bps) ke 7,21 persen, tenor 4 tahun naik 3,1 bps ke 7,11 persen, serta tenor 1 dan 2 tahun masing-masing terangkat 2,4 bps dan 2,8 bps ke posisi 6,95 persen dan 6,98 persen.
Faktor Defisit Neraca Migas dan Sinyal Kebijakan Moneter
Ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) memicu kerentanan nilai tukar rupiah terhadap lonjakan harga internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan migas sepanjang semester pertama 2026 (Januari-Juni) membesar hingga US$15,77 miliar. Kondisi ini menggerus surplus sektor non-migas yang berada di angka US$19,35 miliar, sehingga total surplus perdagangan nasional menyusut tersisa US$3,58 miliar. Kepastian pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) belum mampu meredam imbas pembengkakan kebutuhan dolar akibat tingginya nilai impor migas.
Lembaga keuangan Citi memproyeksikan peluang perubahan arah kebijakan moneter BI setelah pergantian kepemimpinan. Lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Jumat (7/8/2026) mencatatkan penurunan yield sebesar 5 bps, mengindikasikan adanya ruang penurunan suku bunga SRBI sekurang-kurangnya 25 bps. Pelonggaran kebijakan moneter tersebut bergantung pada kestabilan imbal hasil US Treasury dan keberlanjutan arus modal asing ke pasar surat utang negara.
