![]() |
| Ditjen Dukcapil Kemendagri menyabet penghargaan Top Public Service Application for Ministry lewat inovasi Aplikasi Identitas Kependudukan Digital. | Dok: Kemendagri |
Executive Summary ▼
- Layanan Identitas Kependudukan Digital (IKD) Kemendagri meraih penghargaan Top Public Service Application for Ministry dalam ajang JawaPos.com Digital Excellence Awards 2026 atas keberhasilannya bertransformasi ke format digital.
- Inovasi IKD mempermudah administrasi publik dengan mengintegrasikan e-KTP, Kartu Keluarga, dan dokumen penting ke dalam ponsel pintar sehingga masyarakat tak perlu lagi membawa berkas fisik atau fotokopi.
- Transformasi digital sektor publik dinilai butuh kesiapan budaya kerja, di mana pihak penyelenggara menekankan pentingnya keberanian organisasi untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Aplikasi Identitas Kependudukan Digital besutan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri meraih penghargaan Top Public Service Application for Ministry dalam ajang JawaPos.com Digital Excellence Awards 2026. Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Benni Irwan menerima langsung trofi tersebut dari CEO JawaPos.com Dhimas Ginanjar di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Kemudahan Akses Layanan Kependudukan Lewat Seluler
Inovasi IKD menghadirkan KTP elektronik dalam format digital yang tersimpan langsung di ponsel pintar. Platform ini memuat data kependudukan pengguna, Kartu Keluarga, hingga berbagai dokumen penting lain dalam satu genggaman.
Masyarakat tidak perlu lagi membawa berkas fisik atau membuat salinan fotokopi saat mengurus administrasi publik. Integrasi data ini mempermudah proses verifikasi di sektor pelayanan kesehatan, perbankan, hingga pendaftaran pendidikan.
Adaptasi Digital dan Tantangan Budaya Kerja
Penyelenggara memberikan apresiasi khusus bagi kementerian dan instansi yang berani mengubah budaya kerja demi menghadirkan kemudahan publik. Dhimas Ginanjar menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus diimbangi kesiapan mental organisasi.
"Teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat. Yang paling penting adalah keberanian untuk berubahnya, karena apa pun teknologi yang digunakan akan sulit kalau dari budaya kerja tidak ada yang mau berubah," ujar Dhimas dalam sambutannya.
Transformasi digital sektor publik dinilai seperti lari maraton tanpa garis finis. Munculnya teknologi dan algoritma baru menuntut setiap lembaga terus belajar dan cepat beradaptasi tanpa lekas berpuas diri.
Momen penganugerahan ini disaksikan Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Komunikasi dan Media Massa Molly Prabawaty yang hadir mewakili Menteri Komdigi Meutya Hafid, Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana, serta jajaran perwakilan BUMN dan perusahaan swasta.
