![]() |
| SK Innovation E&S mengapalkan 300.000 barel kondensat dari ladang gas Barossa Australia ke Pelabuhan Incheon guna menghindari risiko penutupan Selat Hormuz oleh Iran. | Foto Dok: SK Innovation E&S |
Langkah diversifikasi pasokan energi global mulai dieksekusi oleh korporasi Korea Selatan. SK Innovation impor 300 ribu barel kondensat Australia guna amankan jalur Hormuz yang sampai saat ini masih didera ketidakpastian tinggi. Perusahaan mengonfirmasi pada Senin (27/7/2026) bahwa muatan minyak mentah ringan dari ladang gas Barossa tersebut dijadwalkan merapat di Pelabuhan Incheon pada awal bulan depan.
Pendaratan muatan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi industri energi domestik. Ini merupakan momen pertama kalinya bagi perusahaan swasta Korea Selatan berhasil mendaratkan kondensat hasil pengembangan ladang minyak mandiri di luar negeri. Bahan baku ini nantinya diproses langsung di unit khusus milik SK Incheon Petrochem untuk menghasilkan nafta, paraxylene, bensin, dan bahan bakar jet.
Solusi Alternatif Hambatan Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memaksa produsen petrokimia Korea Selatan memutar otak. Perang Iran yang pecah pada Februari lalu memicu penutupan Selat Hormuz, memutus jalur pasokan utama minyak mentah, dan melambungkan harga bahan baku. Data Korea National Oil Corporation mencatat impor minyak dari Timur Tengah merosot tajam dari 66,23 juta barel pada Januari menjadi hanya 43,89 juta barel pada Juni. Selisih pasokan tersebut terpaksa ditutupi oleh pasokan dari Amerika Serikat dan Afrika.
Kondisi jalur logistik yang tidak stabil ini mendongkrak harga nafta global. Pada Januari, harga nafta bertengger di angka 62,74 dolar AS per barel, namun meroket hingga 106,86 dolar AS per barel pada Juni, mencerminkan lonjakan tajam sebesar 70 persen. Insentif pemotongan harga dari pemerintah yang sempat menolong industri telah berakhir per 1 Juli seiring penurunan status peringatan pasokan minyak mentah. Asosiasi industri kini mendesak bantuan tersebut segera diaktifkan kembali mengingat Selat Hormuz kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Proyeksi Jangka Panjang Ladang Barossa
SK Innovation E&S menguasai 37,5 persen saham di ladang gas Barossa yang terletak di lepas pantai barat laut Australia. Sisa kepemilikan dipegang oleh Santos asal Australia sebesar 50 persen dan JERA dari Jepang sebanyak 12,5 persen. Korporasi asal Korea ini telah bergabung dalam proyek tersebut sejak 2012 untuk menggarap penilaian cadangan, perizinan, hingga fase konstruksi sebelum pengiriman perdana bulan ini.
Kepemilikan saham tersebut menjamin hak bagi perusahaan untuk menerima 1,1 juta barel kondensat per tahun, atau total 22 juta barel selama masa kontrak 20 tahun. Meskipun volume 300.000 barel pada pengiriman pertama ini tergolong kecil dibanding kapasitas kilang SK Innovation yang mencapai 800.000 barel per hari, pasokan ini krusial sebagai strategi jangka panjang. Sektor petrokimia merupakan urat nadi manufaktur Korea Selatan yang memasok komponen mobil, elektronik, tekstil, hingga pasokan medis. Diversifikasi pasokan menjadi kebutuhan mutlak agar daya saing industri tetap terjaga dari guncangan geopolitik global.
Sumber: Korea JoongAng Daily
