Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

–
|

Kategori

Kategori

Sub Kategori 2

Media Network

Informasi

Connect With Us

News

Proyeksi Setoran Freeport Indonesia Naik Menjadi 4,7 Miliar Dolar AS pada 2027

PT Freeport Indonesia menargetkan kenaikan proyeksi setoran Freeport Indonesia untuk negara sebesar 4,7 miliar dolar AS pada 2027 seiring pemulihan penuh area Grasberg.
Ilustrasi,Proyeksi setoran Freeport Indonesia untuk penerimaan negara pada 2027 dipatok mencapai 4,7 miliar dolar AS
Ilustrasi: Proyeksi setoran Freeport Indonesia untuk penerimaan negara pada 2027 dipatok mencapai 4,7 miliar dolar AS. | (IDN Wire)
Sedang merangkum artikel secara kilat...
AI Generated

Target kontribusi finansial PT Freeport Indonesia kepada kas pemerintah pusat diproyeksikan mengalami lompatan signifikan menjadi 4,7 miliar dolar AS pada tahun 2027 mendatang. Estimasi penerimaan negara ini merangkak naik cukup tajam apabila disandingkan dengan proyeksi setoran untuk periode tahun 2026 yang tertahan pada angka 2,6 miliar dolar AS. Manajemen meyakini pemulihan performa operasional setelah kendala teknis di lapangan menjadi pendorong utama membaiknya kurva keuangan perusahaan dalam dua tahun ke depan.

Kepastian mengenai perbaikan angka kontribusi tersebut dipaparkan langsung oleh Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, sewaktu menghadiri agenda Rapat Dengar Pendapat bersama jajaran parlemen di Komisi XII DPR RI, Jakarta. Berdasarkan data yang dikutip dari ANTARA, grafik penerimaan negara berpotensi kuat menembus angka estimasi baru tersebut asalkan grafik peningkatan volume produksi di area konsesi berjalan sesuai dengan target pemulihan yang telah dicanangkan perusahaan.

Pemulihan Kapasitas Kinerja Tambang Bawah Tanah Grasberg

Akar dari fluktuasi target finansial ini bermuara pada kondisi fasilitas penambangan bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang berlokasi di Mimika, Papua Tengah. Area strategis tersebut sempat lumpuh total dan menghentikan seluruh aktivitas eksploitasi akibat terjangan insiden longsor pada tanggal 8 September 2025. Terhentinya operasional di GBC memberikan dampak instan yang cukup masif bagi performa korporasi secara agregat, mengingat zona penambangan bawah tanah ini merupakan pilar utama dari tiga wilayah kerja aktif milik perusahaan saat ini, berdampingan dengan area DMLZ serta Big Gossan.

Catatan operasional internal perusahaan memperlihatkan bahwa wilayah GBC memegang peran yang sangat vital dengan kapasitas produksi konsentrat menyentuh kisaran 133.800 ton per hari. Kontribusi masif tersebut merepresentasikan sekitar 64 persen dari total keseluruhan volume operasional pabrik pengolahan. Kondisi ini menempatkan posisinya jauh di atas kapasitas harian area DMLZ yang bertumpu pada angka 64.900 ton per hari, maupun wilayah kerja Big Gossan yang menyumbang pasokan konstan sekitar 8.000 ton per hari.

Tahapan Pemulihan Operasional dan Proyeksi Jangka Panjang

Dampak langsung dari mandeknya pasokan konsentrat dari sektor GBC membuat estimasi penerimaan negara untuk kalender 2026 terpaksa dipangkas ke level 2,6 miliar dolar AS, sebuah penurunan drastis jika dibandingkan capaian target periode 2025 yang sempat bertengger di angka 4,3 militar dolar AS. Langkah normalisasi kini sedang diakselerasi, di mana manajemen menargetkan pemulihan kapasitas produksi tambang bawah tanah ini secara bertahap sepanjang tahun berjalan.

Mengacu pada cetak biru pemulihan yang dirancang perusahaan, kekuatan operasional GBC pada paruh pertama tahun 2026 diprediksi baru menyentuh angka 50 persen dari kapasitas normal, sebelum merangkak naik menuju level 65 persen pada paruh kedua tahun yang sama. Tren penguatan ini diproyeksikan terus berlanjut pada semester pertama tahun 2027 dengan target pencapaian 75 persen, hingga akhirnya mampu beroperasi penuh dalam kapasitas 100 persen sepanjang enam bulan terakhir di tahun tersebut.

Manajemen mengalkulasi bahwa ketika seluruh mesin produksi kembali bekerja dalam kapasitas penuh pada tahun 2028, nilai setoran riil kepada pemerintah Indonesia berpeluang besar menembus batas 7 miliar dolar AS setiap tahunnya. Jika dikonversi ke dalam mata uang domestik, angka jumbo tersebut setara dengan pasokan dana segar berkisar Rp120 triliun per tahun bagi kas negara. Proyeksi jangka panjang ini dirumuskan secara terukur dengan menetapkan indikator asumsi harga komoditas tembaga dunia pada level 6 dolar AS per pon serta pergerakan harga komoditas emas di posisi 4.500 dolar AS per ons.

Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel ✓
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

← Sebelumnya Selanjutnya →

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...
Advertisement 5