Executive Summary ▼
- Perdamaian Gaza menjadi titik tusuk pidato terakhir Macron di Majelis Umum PBB: ia menolak klaim kemenangan diplomatik dan menekankan belum ada koridor kemanusiaan yang dibuka kembali.
- Macron menyerang nada sinis soal pengakuan Palestina: dari belasan negara yang mengakui setahun lalu, ia mempertanyakan kredibilitas dunia bila berdiam diri menghadapi Gaza.
- Gedung Putih membalas lewat Anna Kelly dengan menyatakan Trump mengakhiri perang Israel-Hamas, membebaskan sandera hidup, memulangkan jenazah, dan memimpin Rencana 20 Poin untuk Perdamaian di Gaza.
IDNWIRE.COM — Perdamaian Gaza yang diumbar Donald Trump di podium Majelis Umum PBB langsung ditantang Emmanuel Macron: belum ada satu pun koridor kemanusiaan dibuka kembali, sehingga kemenangan diplomatik versi Washington dinilai cuma panggung yang memalukan. Macron mengatakannya hanya beberapa jam setelah Trump, dari podium sama, memuji rencana Gaza sebagai capaian besar.
Gedung Putih menuturkan Presiden AS itulah yang mengakhiri perang antara Israel dan Hamas. Juru bicara Anna Kelly menyebut Trump membebaskan seluruh sandera yang masih hidup, memulangkan jenazah korban kepada keluarga mereka, dan kini memimpin pelaksanaan Rencana 20 Poin untuk Perdamaian di Gaza.
Kelly menuturkan pihak lain tidak berbuat apa-apa. Dalam pernyataannya, ia menyebut lawan bicara hanya sanggup berucap, sedangkan Trump menghadapi masalah rumit secara langsung. Tak ada pihak lain yang disebutnya lebih banyak berkarya demi perdamaian dan stabilitas kawasan.
Sebagaimana melansir dari laporan Reuters, Macron memakai pidato terakhirnya di PBB untuk membedah klaim tersebut. Ia menyebut dunia sedang menyaksikan tontonan yang seharusnya membuat semua pihak merasa malu. Saat menekan kritik, ia memukul podium dengan kepalan tangan.
Ia juga membawa ingatan setahun lalu saat belasan negara mengakui Palestina dalam ruangan yang sama. Macron menirukan nada sinis yang didengarnya: pengakuan disebut hanya selembar kertas, lalu orang diminta melihat kenyataan. Dari situ, ia bertanya kredibilitas apa yang tersisa bila dunia tetap diam melihat Gaza.
Inti serangan Macron bukan pada deklarasi, melainkan akses bantuan. Ia menegaskan perdamaian yang dipuji tidak membuka kembali akses kemanusiaan barang sedetik pun. Pertanyaannya dijatuhkan langsung ke hadapan Majelis Umum: apakah dunia hanya akan berdiam diri menyaksikan tontonan yang seharusnya memalukan itu?
Konfrontasi verbal ini menempatkan klaim perdamaian Gaza sebagai rebutan naratif di ruang tertinggi diplomasi. Macron menolak versi kemenangan, Washington mempertahankan skor konflik, dan akses kemanusiaan tetap menjadi ukuran yang dipakai untuk menilai janji perdamaian.
