![]() |
| Presiden Prabowo Subianto menargetkan percepatan pembangunan PLTS 100 GW. Langkah transisi energi ini dihitung mampu menghemat anggaran negara Rp73,9 triliun per tahun. | Foto: Youtube Setpres |
Executive Summary ▼
- Presiden Prabowo Subianto mengumumkan percepatan pembangunan PLTS 100 GW untuk memotong biaya pokok produksi listrik nasional.
- Pemerintah mematok target pembangunan PLTS 30 GW tahun ini berbarengan dengan penghentian operasional 13 GW Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
- Kemandirian energi tingkat desa dirancang lewat instalasi PLTS 1 MW per desa guna menghentikan ketergantungan wilayah kepulauan pada pasokan BBM solar.
Pemerintah mematok target eksekusi proyek pemanfaatan energi surya berskala masif hingga mencapai kapasitas total 100.000 megawatt (MW) atau 100 gigawatt (GW). Kebijakan ini diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 pada rapat paripurna DPR di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Pemanfaatan potensi matahari secara maksimal ini bakal menekan beban pengeluaran negara secara signifikan. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengalkulasi bahwa pengoperasian kapasitas 100 GW listrik tenaga surya sanggup memangkas biaya pokok produksi (BPP) listrik sebesar Rp73,9 triliun per tahun.
"Kita telah mulai dan akan bangun 100.000 megawatt, atau 100 gigawatt energi surya," kata Prabowo di hadapan para anggota dewan.
Suntikan 30 GW Tahun Ini dan Pemangkasan PLTD
Pemerintah membagi tahapan konstruksi ke dalam beberapa fase operasional. Untuk kalender tahun ini, target pembangunan terpasang dipatok sebesar 30 GW.
Penyediaan kapasitas energi terbarukan baru tersebut berjalan sejajar dengan program konversi pembangkit fosil. Pemerintah secara bertahap mematikan operasional PLTD berbasis minyak solar dengan total kapasitas 13 GW tahun ini.
Skema penutupan generator diesel dilakukan untuk menyetop ketergantungan wilayah terisolasi terhadap logistik BBM. Selama ini, pulau-pulau terluar harus menunggu pengiriman kapal pembawa solar untuk menjaga pasokan arus listrik harian.
Model Kemandirian Energi 1 MW per Desa
Prabowo menyoroti melimpahnya pajangan sinar matahari sepanjang tahun di wilayah tropis Indonesia sebagai aset ekonomi utama. Skema distribusi energi lokal disiapkan hingga menjangkau tingkat pemerintahan terendah.
Pemerintah merancang konsep satu desa satu unit pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas ideal 1 MW. Kehadiran fasilitas penerangan mandiri berbasis desa ini difungsikan untuk menyelesaikan krisis energi di daerah yang belum terjangkau jaringan listrik utama.
Langkah ini menutup ruang pemborosan BBM impor sekaligus mengalihkan pasokan energi listrik nasional ke sumber domestik terbarukan secara permanen.
