![]() |
| Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 menghadirkan fenomena shadow bands berupa garis cahaya dan bayangan cepat yang masih menyimpan misteri ilmiah. | Ilustrasi/Foto: Pexels |
Executive Summary ▼
- Shadow bands adalah garis cahaya dan bayangan cepat yang muncul sesaat Gerhana Matahari Total.
- Fenomena ini masih misterius, sulit diamati, dan tidak selalu hadir pada setiap gerhana.
- Asal-usulnya diperdebatkan antara turbulensi atmosfer bawah atau difraksi cahaya di atas atmosfer.
- Shadow bands akan menjadi target pengamatan penting pada Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026.
Gerhana Matahari Total yang terjadwal pada 12 Agustus 2026 bakal menghadirkan sejumlah fenomena langit menarik, salah satunya shadow bands. Berdasarkan rilis NASA yang dilansir melalui BloombergTechnoz, fenomena tersebut berupa garis-garis cahaya dan bayangan yang bergerak cepat di permukaan tanah sesaat sebelum serta setelah Bulan menutupi Matahari sepenuhnya.
Pola garis gelap ini dipisahkan oleh area terang yang sangat samar sehingga kerap sulit diamati maupun direkam. Bentuknya menyerupai riak yang melintasi permukaan berwarna terang seperti dinding, tanah, atau kain putih. Durasi kemunculannya sangat singkat di sekitar fase totalitas dan tidak selalu hadir pada setiap peristiwa gerhana.
Perdebatan Ilmiah Asal-Usul Cahaya
Kalangan ilmuwan hingga kini masih memperdebatkan penyebab pasti kemunculan shadow bands. Teori pertama menyebutkan pola tersebut berasal dari turbulensi di dalam atmosfer Bumi, di mana cahaya Matahari yang menyisakan sabit tipis mengalami perubahan arah atau intensitas akibat kondisi udara.
Namun, penelitian terbaru mematahkan anggapan bahwa teori tersebut dapat menjelaskan seluruh pengamatan. Tim peneliti menggunakan balon ketinggian yang dilengkapi sensor cahaya, radiosonde, serta pesawat saat meneliti gerhana 8 April 2024. Publikasi Januari 2026 menunjukkan tidak ada sinyal shadow bands yang tertangkap oleh sensor di atas planetary boundary layer, yakni lapisan tempat turbulensi dekat permukaan Bumi paling banyak terjadi.
Hasil ini berbeda jauh dengan riset pada gerhana 2017 yang mendeteksi sinyal sekitar 4,5 Hz dari balon ketinggian maupun sensor permukaan. Studi terbaru menyimpulkan fenomena ini memiliki dua kemungkinan sumber, yakni turbulensi atmosfer lapisan bawah atau efek difraksi dan interferensi cahaya yang terjadi di atas atmosfer.
Target Pengamatan Gerhana 2026
Jalur Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 akan melintasi wilayah Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Spanyol bagian utara, serta sebagian Portugal. Sejumlah wilayah di Eropa, Afrika utara, dan Amerika Utara turut mengalami gerhana sebagian.
Space.com mencatat pola shadow bands dapat dicoba diamati beberapa menit sebelum dan sesudah fase total, ketika Matahari tampak sebagai sabit tipis. Bagi para periset, pengamatan ini berfungsi sebagai petunjuk krusial mengenai cara cahaya merambat melalui atmosfer serta pengaruh kondisi udara Bumi terhadap pancaran cahaya Matahari. Perbedaan data dari riset-riset sebelumnya menjadikan momen gerhana mendatang sebagai kesempatan emas mengumpulkan data lanjutan.
