Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

–
|

Kategori

Kategori

Sub Kategori 2

Media Network

Informasi

Connect With Us

News

Prospek Saham PGAS di Tengah Rencana Pembatasan Harga Gas LNG

Perusahaan Gas Negara Persero Tbk
Kementerian ESDM berencana membatasi harga gas industri non-subsidi menjadi US$ 13 per mmbtu. Begini proyeksi dan prospek saham PGAS menurut analisis para broker. | Foto Ilustrasi/Dok PGN
Sedang merangkum artikel secara kilat...
AI Generated

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan rencana regulasi baru untuk menurunkan harga gas industri non-subsidi menjadi US$ 13 per mmbtu berlaku secara nasional. Kebijakan intervensi ini diambil menyusul lonjakan harga gas bersumber dari liquefied natural gas (LNG) yang menembus kisaran US$ 20-21 per mmbtu pada Juni 2026, sehingga membebani biaya operasional sektor manufaktur. Melansir laporan Kontan, fluktuasi tajam tersebut dipicu oleh efek tunda lonjakan harga minyak mentah global pada Maret lalu yang mengacu pada sistem jeda waktu tiga bulan pasar LNG. Meski dibayangi sentimen pembatasan harga gas industri, proyeksi dan prospek saham PGAS dinilai sejumlah analis pasar modal tetap memperlihatkan daya tarik investasi yang kuat.

Proyeksi Kebijakan Harga Gas LNG Masa Kontrak Enam Bulan

Riset UBS Sekuritas Indonesia yang diterbitkan 13 Juli 2026 memberikan gambaran bahwa tekanan regulasi ini diprediksi tidak akan menggerus kinerja emiten seketat kekhawatiran awal pelaku pasar. Analis UBS Sekuritas Indonesia, Timothy Handerson, menjelaskan hasil diskusi dengan manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk menunjukkan kebijakan patokan harga gas LNG ini dirancang tidak permanen, melainkan hanya berlaku temporer selama enam bulan untuk periode Juli hingga Desember 2026.

Hingga saat ini, implementasi di lapangan belum berjalan karena seluruh pelaku industri masih menunggu penerbitan regulasi resmi payung hukum dari pemerintah. Timothy menambahkan bahwa penyesuaian nilai paling krusial akan terjadi pada kuartal III-2026. Hal itu terjadi karena formula kargo LNG periode tersebut mengacu pada rata-rata harga minyak kuartal II-2026 yang bertengger di level tinggi US$ 110 per barel, berbanding terbalik dengan harga spot terkini yang sudah melandai di kisaran US$ 70 per barel.

Dampak Skema Distribusi Terhadap Prospek Saham PGAS

Penilaian berbeda datang dari Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Arnanto Januri. Regulasi anyar ini dipastikan mengubah peta rata-rata harga jual (average selling price) LNG perusahaan yang saat ini posisinya berada di atas level US$ 14 per mmbtu. Berdasarkan perhitungan model keuangan JP Morgan, kontribusi penjualan LNG diproyeksikan menyumbang porsi 20% dari total volume gas perusahaan sepanjang tahun 2026, sebelum merangkak naik hingga menyentuh angka 40% pada tahun 2027.

Arnanto memperkirakan eksekusi pemangkasan tarif akan berjalan melalui kombinasi dua skenario operasional. Pertama, penurunan harga beli gas di sektor hulu untuk meringankan beban pokok pendapatan perseroan. Kedua, kompresi pada margin distribusi internal perusahaan agar harga akhir yang diterima konsumen hilir bisa menyentuh target pemerintah. Kendati otoritas terkait sudah menegaskan beban penurunan ini dibagi rata antara sektor hulu dan hilir, kepastian mengenai formula pembagian porsi kerugian antarpelaku usaha tersebut hingga kini belum menemui titik terang. Pembagian komitmen porsi penerimaan negara di sektor hulu, tarif pengolahan, hingga pengelolaan infrastruktur perdagangan masih menjadi variabel yang menentukan arah pergerakan pasar saham ke depan.

PGAS Chart oleh TradingView
Tags: Bisnis
Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel ✓
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

← Sebelumnya Selanjutnya →

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...
Advertisement 5