Pemerintah Jepang meluncurkan proyek superkomputer fisik ambisius lewat pembangunan pabrik AI robotik berkapasitas 140 megawatt yang digarap oleh Nvidia bersama konsorsium teknologi Noetra. Melansir laporan DetikINET, megaproyek ini menelan anggaran awal sebesar 387,3 miliar yen atau setara Rp 38,8 triliun (USD 2,4 juta) untuk masa operasional hingga tahun anggaran 2030, dengan target pendanaan jangka panjang menyentuh angka 1 triliun yen atau berkisar USD 6,1 miliar. Fasilitas komputasi masif ini disiapkan menjadi motor penggerak utama program FRONTia milik pemerintah Jepang yang berfokus pada pengembangan robotik, otomasi industri, serta teknologi digital twins.
Noetra, konsorsium pemenang tender negara yang dipimpin oleh korporasi raksasa seperti SoftBank Corp., Sony, NEC, dan Honda beserta 44 perusahaan mitra lainnya, mengonfirmasi bahwa pembangunan akan berjalan bertahap. Peta jalan FRONTia mematok target penyelesaian model penalaran pada 2026, yang kemudian diikuti model omni-modal berbasis teks, video, dan audio pada 2028. Puncaknya pada 2030, proyek ini ditargetkan mampu melahirkan AI asli dunia nyata dengan kesadaran spasial penuh yang siap diintegrasikan langsung pada robot-robot di sektor manufaktur pabrik serta layanan rumah sakit.
Spesifikasi Rak Server Vera Rubin NVL72 untuk Otomasi Industri
Pabrik komputasi berskala raksasa ini dirancang menggunakan platform pusat data Nvidia DSX dengan sokongan arsitektur chip Rubin terbaru yang dijadwalkan masuk tahap produksi massal pada paruh kedua tahun ini. Demi memproses pelatihan model kecerdasan buatan yang melibatkan triliunan parameter, infrastruktur perangkat keras dipastikan memakai 27.500 GPU Rubin dan 13.750 CPU Vera. Seluruh perangkat keras tersebut didistribusikan secara rapat ke dalam 382 rak server Vera Rubin NVL72 yang terkoneksi melalui sistem jaringan mutakhir Spectrum-X Ethernet.
Setiap unit rak tunggal mengombinasikan 72 GPU Rubin dan 36 CPU Vera untuk menghasilkan sistem komunikasi bandwidth tinggi NVLink. Berdasarkan estimasi pasar saat ini, harga satu unit sistem VR200 NVL72 menembus angka USD 5 juta hingga USD 7 juta. Kalkulasi ini menunjukkan total nilai pengadaan rak perangkat kerasnya saja sudah menembus angka USD 1,9 miliar hingga USD 2,7 miliar, belum termasuk biaya tambahan untuk integrasi sistem pendingin khusus serta kapasitas memori internal.
Target Strategi Robotik AI Jepang Kuasai Pasar Global
Fasilitas ini sengaja didesain berbeda dari superkomputer komersial konvensional karena menyediakan ekosistem platform utuh yang menyatukan chip, sistem jaringan, perangkat keras, hingga perangkat lunak pendukung. Tujuannya adalah melatih model fondasi multimodal terbuka yang bisa berinteraksi langsung dengan sistem fisik dan robot, alih-alih sekadar mengolah data teks atau gambar. Pemerintah Jepang nantinya membagikan bobot prapelatihan atau pretrained weights secara terbuka kepada para pengembang lokal serta industri domestik agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan logistik spesifik mereka.
Proyek infrastruktur ini berjalan beriringan dengan Strategi Robotik AI Jepang yang telah diresmikan sejak Maret lalu. Tokyo membidik target besar untuk menguasai lebih dari 30 persen pangsa pasar robotik AI global pada tahun 2040, dengan potensi nilai ekonomi yang diprediksi mencapai USD 133 miliar. Melalui realisasi investasi yang luar biasa besar ini, otoritas Jepang menegaskan posisi komputasi AI fisik skala besar sebagai aset nasional strategis yang wajib dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.