Banyak kapal dagang hindari pengawalan militer AS di Selat Hormuz setelah gelombang serangan Iran terhadap kapal komersial memicu kekhawatiran serius soal keselamatan kru dan kargo. Operator kapal kini menilai jalur yang dikawal militer Amerika Serikat justru semakin berbahaya.
Melansir laporan CNBC Indonesia yang mengutip data Reuters, tujuh sumber industri pelayaran menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap klaim Washington yang menyebut operasi pengawalan berhasil menjaga arus perdagangan energi. Keputusan menjauh dari jalur kawalan ini diambil murni demi keselamatan awak kapal akibat situasi di lapangan yang terus memburuk.
Jalur Alternatif Oman yang Kian Rawan
Perang yang pecah sejak 28 Februari membuat pasukan Iran menanam ranjau di jalur aman Traffic Separation Scheme milik IMO yang sudah dipakai sejak 1968. Akibatnya, kapal-kapal terpaksa bergeser menggunakan dua jalur alternatif yang posisinya lebih dekat ke pantai Iran atau Oman.
Militer AS sebenarnya telah meluncurkan operasi rahasia sejak Juni dengan mengerahkan drone udara, drone laut, hingga helikopter untuk memandu kapal tanker. Operasi ini sempat membantu ekspor puluhan juta barel minyak negara Teluk guna meredam lonjakan harga energi dunia.
Namun, efektivitas skema tersebut rontok begitu serangan menyasar perairan Oman. Korps Garda Revolusi Iran mengklaim telah menghantam dua kapal tanker super milik Uni Emirat Arab (UEA). Data badan pelayaran PBB mencatat sedikitnya lima kapal menjadi sasaran tembak sejak 7 Juli, meliputi tiga tanker minyak mentah, satu kapal LNG, dan satu kapal kontainer.
Analis Timur Tengah Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, menilai kemampuan Iran mengacak-acak jalur Oman membuat solusi pemerintahan Presiden Donald Trump sulit berhasil. Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih Olivia Wales bersikeras bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan menuduh Iran melakukan aksi terorisme internasional terhadap kapal dagang damai.
Seorang pejabat pertahanan AS yang meminta identitasnya dirahasiakan mengklaim operasi kawalan masih efektif. Ia memaparkan data bahwa dalam tujuh hari terakhir ada lebih dari 100 kapal berkoordinasi langsung dengan militer AS, dan 300 kapal terpantau berhasil melintas meski volume pelayaran belum normal.
Risiko Selat Hormuz Naik Jadi Parah
Kondisi riil di laut memicu ketegangan baru setelah Iran mengancam akan menyetop lebih banyak ekspor energi. Langkah Teheran ini merupakan respons atas blokade laut yang kembali diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Lebih mengkhawatirkan lagi, Iran memberi sinyal akan menggerakkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb. Jika ancaman ini terealisasi, dua urat nadi pelayaran energi terpenting dunia akan lumpuh bersamaan.
Dampak nyata dari konflik ini sudah terlihat. Sembilan kapal tanker LNG milik perusahaan Yunani kini terjebak di dalam Teluk Persia setelah masuk mengambil muatan. Dua tanker lain juga dilaporkan kena serang di laut lepas di luar Selat Hormuz.
Pekan lalu, Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut AS resmi menaikkan status risiko pelayaran di Selat Hormuz menjadi severe (parah) dari sebelumnya substantial (tinggi). Status ini hanya berjarak satu tingkat dari level tertinggi, critical (kritis).
Pihak Angkatan Laut AS dalam panduannya bahkan sempat mengingatkan bahwa militer mungkin tidak dapat menyampaikan informasi ancaman secara langsung kepada awak kapal. Lima sumber industri mengeluhkan minimnya kejelasan informasi dari militer AS terkait tingkat bahaya di jalur Oman. Keadaan ini membuat operator frustrasi karena klaim AS yang menyebut selat tetap aman bertolak belakang dengan realita di laut. Perusahaan keamanan maritim Yunani, Diaplous dan MARISKS, akhirnya menerbitkan advis agar seluruh pelayaran di kawasan tersebut ditunda karena tidak adanya jaminan keamanan yang memadai.