Tren penguatan mata uang Garuda belum terbendung pada pertengahan Juli ini. Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam dengan terapresiasi 0,44% ke level Rp17.980/US$ pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Lonjakan ini membawa mata uang domestik berhasil mendobrak keluar dari level psikologis Rp18.000/US$ sekaligus mencatatkan posisi terkuatnya dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan data yang dikutip dari CNBC Indonesia lewat pantauan Refinitiv, rupiah bergerak fluktuatif namun dominan menguat di kisaran Rp17.970 hingga Rp18.070/US$ sepanjang hari perdagangan. Kinerja moncer ini menggenapi tren positif rupiah yang sukses membukukan apresiasi selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Inflasi Produsen AS Mendingin, Dolar AS Loyo di Pasar Global
Melonjaknya performa rupiah tidak lepas dari hantaman sentimen eksternal yang menekan posisi dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia tampak kehilangan tenaga. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks DXY bergerak stagnan di level 100,848 setelah jatuh 0,43% pada sesi perdagangan hari sebelumnya.
Lumpuhnya keperkasaan greenback dipicu oleh rilis data ekonomi domestik AS yang memicu aksi jual aset berdenominasi dolar oleh pelaku pasar global. Data Producer Price Index (PPI) atau indeks harga produsen untuk permintaan akhir di AS tercatat turun 0,3% sepanjang Juni 2026. Realisasi ini berbalik arah dari posisi Mei 2026 yang tumbuh 0,6%.
Rupiah Melawan Dolar Amerika Serikat (AS)
Perkembangan Nilai Tukar USD/IDR | Sumber: Refinitiv
Rilis indikator inflasi produsen yang melandai ini jauh di bawah ekspektasi analis pasar yang awalnya memperkirakan posisi PPI tidak akan mengalami perubahan. Kondisi inflasi yang mendingin memberi keyakinan kuat bagi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memiliki ruang bernapas lebih longgar dan tidak perlu buru-buru mengubah arah suku bunga acuan mereka. Meskipun tekanan mereda, pelaku pasar global masih mewaspadai eskalasi ketegangan geopolitik terbaru antara AS dan Iran yang menahan harga minyak tetap tinggi dan berpotensi memicu risiko inflasi baru.
Gebrakan Intervensi Pasar NDF Offshore Bank Indonesia
Dari dalam negeri, otot rupiah yang semakin kekar juga didukung oleh rangkaian strategi pengamanan yang dilancarkan bank sentral. Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui manuver langsung di pasar keuangan global.
Dalam forum Investment Forum 2026 yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/7/2026), Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti membeberkan jurus baru lembaganya. BI rupanya telah aktif mengintervensi pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri atau offshore semenjak April 2026.
Gebrakan ini dilakukan secara nonstop selama 24 jam dalam 6 hari kerja memanfaatkan jejaring kantor perwakilan Bank Indonesia di pusat keuangan dunia seperti Singapura, Hong Kong, hingga New York guna memantau pergerakan NDF luar negeri.
Selain pengawasan nonstop tersebut, BI melonggarkan aturan transaksi dengan memberikan pengecualian larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri. Relaksasi ini menyasar dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) terpilih yang memenuhi kriteria ketat. Langkah taktis ini murni ditujukan demi menyokong ketahanan nilai tukar rupiah sekaligus memperdalam struktur pasar keuangan domestik.
Di samping itu, guna memperluas instrumen operasi moneter, Bank Indonesia turut menyisipkan transaksi instrumen spot dan swap dalam valuta asing Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap mata uang rupiah.