Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke Iran yang menyasar sistem pertahanan udara dan pengawasan pantai. Aksi ini merusak kesepakatan gencatan senjata yang baru berumur satu bulan. Imbas dari eskalasi bersenjata tersebut, bursa komoditas mencatat harga minyak AS naik hampir 3% karena pelaku pasar mengantisipasi gangguan pasokan global.
Berdasarkan data yang dikutip dari Detik Finance, harga minyak mentah berjangka komoditas AS melonjak 2,7% ke level US$ 72,40 per barel pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Kegaduhan di sektor energi ini terjadi setelah rute pelayaran internasional di Selat Hormuz memanas akibat rentetan serangan terhadap kapal-kapal tanker.
Sanksi Dagang Baru dan Penyusutan Stok Washington
Washington tidak hanya mengirim jet tempur, tetapi juga memberlakukan kembali sanksi perdagangan ketat. Langkah sepihak ini membatalkan konsesi yang selama ini membolehkan Iran menjual minyaknya di pasar internasional. Kementerian Luar Negeri Iran langsung melayangkan protes keras dan menyebut keputusan Washington melanggar perjanjian kerangka kerja penghentian perang.
Kekhawatiran pasar kian berlipat gawang setelah rilis data pasokan energi pekan ini tersebar. Stok minyak mentah pada Cadangan Minyak Strategis milik pemerintah AS ternyata sudah menipis ke titik terendah sejak 1983.
Respons Pasar Saham dan Obligasi Global
Meskipun harga minyak AS naik hampir 3%, beberapa analis melihat situasi ini belum masuk fase darurat. Ahli Strategi Senior BNZ di Wellington, Jason Wong, memaparkan lewat Reuters bahwa pasar global sebenarnya memiliki ketahanan tinggi terhadap guncangan pasokan dalam beberapa bulan terakhir. Dia menilai respons pasar kali ini menunjukkan kepanikan yang masih terukur.
Gejolak di sektor riil merembet ke pasar keuangan global. Harga obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun merosot tujuh poin karena para pialang mulai menghitung potensi lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga lanjutan.
Di pasar saham, saham-saham di Wall Street bertumbangan dipicu anjloknya saham Samsung Electronics. Pelemahan ini menular ke pasar Asia, di mana kontrak berjangka indeks Nikkei Jepang mengonfirmasi sinyal penurunan. Kontrak berjangka indeks S&P 500 juga tergerus sekitar 0,1%.
Pergerakan kontras terlihat pada pasar valuta asing. Mata uang dolar AS terpantau bergerak stabil setelah sempat turun dari level tertingginya beberapa waktu lalu. Kondisi ini menahan laju nilai tukar euro di posisi sedikit di atas US$ 1,14 dan dolar Australia pada level US$ 0,6925.
sumber: Detik Finance