![]() |
| Penyelidikan atas dugaan keterlibatan intelijen Rusia membantu serangan Iran ke situs CIA memicu ketegangan baru di tengah diplomasi AS dan Rusia di Manila. | Foto Ilustrasi: Magnific |
Isu Intelijen Bayangi Pertemuan Diplomatik di Manila
Dugaan intelijen Rusia bantu serangan Iran ke situs CIA mengemuka di tengah pertemuan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Kamis (23/7/2026). Pertemuan bilateral di sela-sela KTT negara-negara Asia Tenggara di Manila tersebut awalnya menempatkan konflik Ukraina sebagai agenda utama, melansir laporan Al Jazeera.
Diplomasi kedua negara berlangsung di bawah tekanan laporan anyar intelijen Amerika Serikat. Reuters pada Rabu menyebut lembaga intelijen AS sedang menyelidiki dugaan peran aktif Moskow dalam memasok data navigasi dan pemantauan target bagi militer Teheran.
Rekam Jejak Penargetan Fasilitas AS di Teluk
Rangkaian serangan terhadap instalasi intelijen Amerika Serikat bermula pada awal konflik terbuka AS dan Israel melawan Iran. Media The Washington Post pada 3 Maret melaporkan stasiun CIA yang berlokasi di Kedutaan Besar AS di Riyadh menjadi sasaran tembak, mengutip dua sumber yang mengetahui peristiwa tersebut.
Tiga hari berselang, pada 6 Maret, CNN mengutip sumber intelijen AS yang mengonfirmasi keterlibatan Moskow dalam membantu Teheran memetakan pergerakan personel serta armada pesawat tempur AS di kawasan Teluk. Ketepatan penyusupan drone Iran ke fasilitas Kedutaan Besar AS di Arab Saudi memperkuat dugaan adanya dukungan teknologi navigasi canggih dari pihak luar.
Ketimpangan Kapasitas Satelit dan Pasokan Teknologi
Asisten Profesor Pusat Penelitian Internasional Universitas Sciences Po Paris, Nicole Grajewski, menilai indikasi keterlibatan Moskow sangat masuk akal. Iran tidak memiliki infrastruktur pengamatan berbasis ruang angkasa yang memadai untuk operasi presisi tinggi.
"Iran tidak memiliki kapasitas berbasis ruang angkasa yang tepercaya, berbeda jauh dari Rusia. Dibandingkan Moskow, Teheran kekurangan satelit kelas militer untuk pemetaan dasar. Tampaknya mereka menjalin kesepakatan khusus dengan Rusia," kata Grajewski kepada Al Jazeera.
Bukti fisik keterlibatan teknologi Rusia terdeteksi pada Maret lalu. Reruntuhan drone Shahed-136 yang menyasar pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di Siprus memuat komponen sistem navigasi anti-gangguan Kometa-M buatan Rusia. Kometa-M berfungsi meningkatkan akurasi jelajah drone bentukan Iran. Pihak Rusia membantah temuan yang dipublikasikan The Wall Street Journal tersebut dan mengecapnya sebagai kabar bohong.
Dinamika Kemitraan Strategis Moskow-Teheran
Kemitraan militer kedua negara menguat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Teheran menyuplai armada drone Shahed serta rudal balistik Fateh-110 untuk menyokong operasi militer Rusia. Hubungan tersebut diformalisasikan melalui Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif berdurasi 20 tahun yang ditandatangani tahun lalu.
Kendati perjanjian memuat klausul peningkatan kerja sama pertahanan, Pemerintah Rusia menegaskan batas-batas persekutuan tersebut. The Moscow Times mencatat pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko di Duma Negara yang menegaskan kesepakatan itu tidak membentuk aliansi militer formal maupun kewajiban saling bantu secara militer.
Grajewski mengamati Moskow memanfaatkan eskalasi konflik AS-Iran untuk mengalihkan fokus global dari medan perang Ukraina. "Rusia melihat dinamika ini sebagai bagian dari pergeseran tatanan global yang berpotensi menekan posisi Amerika Serikat. Mereka menjaga keseimbangan agar Iran memiliki daya tahan memadai tanpa harus menyeret Rusia ke dalam konflik langsung," tuturnya.
Eskalasi militer di lapangan terus meningkat. Serangan udara AS ke wilayah Iran berlangsung selama 12 malam berturut-turut, termasuk gempuran di perlintasan Shalamcheh, batas Irak-Iran, yang menewaskan sedikitnya dua orang pada Kamis pagi. Iran membalas dengan meluncurkan gelombang serangan ke sejumlah negara Teluk dan Yordania.
