Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

–
|

Kategori

Kategori

Sub Kategori 2

Media Network

Informasi

Connect With Us

News

Posisi Dilematis India Menjaga Keseimbangan Diplomasi di KTT BRICS

brics-summit-2026
KTT BRICS diwarnai ketegangan geopolitik global. Perbedaan kepentingan politik dan konflik internal antaranggota menguji soliditas kelompok dalam mengambil sikap bersama. | Foto: whispers in the corridors
Executive Summary ▼
  • Posisi dilematis India menjaga keseimbangan diplomasi di KTT BRICS terlihat dari upaya New Delhi mempertahankan hubungan strategis dengan Barat sekaligus bermitra dengan Rusia dan China.
  • Konflik geopolitik di Ukraina dan Timur Tengah memicu tajamnya perbedaan kepentingan politik di antara 11 negara anggota kelompok tersebut.
  • Rencana dedolarisasi melalui sistem pembayaran lokal difokuskan untuk menekan risiko tekanan politik lembaga keuangan Barat, bukan konfrontasi langsung.

idnwire.com — Posisi dilematis India menjaga keseimbangan diplomasi di KTT BRICS menjadi sorotan utama di tengah eskalasi konflik perang Ukraina, gejolak Timur Tengah, serta persaingan AS-China. KTT yang menghadirkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian ini menjadi arena krusial bagi India.

New Delhi berupaya keras merangkul Moskow dan Beijing tanpa mengorbankan kemitraan strategisnya dengan Washington dan sekutu Barat.

Kelompok pasar berkembang yang kini beranggotakan 11 negara termasuk Indonesia dan Malaysia mencakup separuh populasi dunia serta memegang porsi raksasa sumber daya energi dan ekonomi global. Namun, ekspansi keanggotaan justru memperjelas jurang perbedaan domestik maupun politik luar negeri antaranggota.

Sebagaimana dikutip dari Associated Press, analis senior International Crisis Group Praveen Donthi menegaskan bahwa entitas Global South tidak seragam, sehingga kelompok ini menghadapi tantangan besar untuk mengelola dan menjadi penengah konflik.

Perbedaan pandangan terlihat nyata pada respons terhadap isu keamanan internasional. Rusia dan China menopang Iran di panggung diplomasi global, sementara India memilih langkah lebih terukur.

Di sisi lain, anggota baru seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memendam ketegangan tersendiri dengan Teheran. Rivalitas internal juga membayangi hubungan bilateral India dan China pascakonflik perbatasan 2020, serta persaingan regional antara Mesir dan Ethiopia.

Bagi India, kehadiran Presiden Xi Jinping menjadi momentum interaksi diplomatik perdana dalam tujuh tahun untuk mencairkan ketegangan bilateral. Kendati demikian, pemulihan hubungan perdagangan dan bisnis kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda signifikan.

India tetap konsisten memanfaatkan platform non-Barat ini untuk menegaskan independensi politik luar negerinya sembari aktif di blok persahabatan Barat seperti Quad.

Agenda mendesak yang diusung dalam pertemuan ini yakni pengurangan ketergantungan pada dolar AS melalui penguatan sistem pembayaran lokal. Tekanan sanksi ekonomi Barat terhadap Rusia memicu wacana penguatan opsi transaksi berbasis mata uang internal.

Mantan diplomat India Mahesh Sachdev menjelaskan bahwa skema ini bertujuan menghindari alat tekanan politik dari lembaga keuangan Barat, bukan untuk memicu konfrontasi langsung dengan dolar.

Pengaruh BRICS di masa depan sangat bergantung pada komitmen konkret para anggotanya. Tanpa keselarasan langkah dan hanya mengandalkan seremoni foto bersama, relevansi kelompok ini berisiko terkikis dari waktu ke waktu.

Sumber: Liputan 6
Penulis/Editor: Juanda Data Wijaya
Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel ✓
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

← Sebelumnya Selanjutnya →

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...
Advertisement 5