![]() |
| Jet tempur F-15 Arab Saudi melancarkan 37 serangan ke wilayah Taiz dan Hajjah, Yaman. Agresi militer ini kembali merenggut nyawa warga sipil. | Foto: Tasnim |
Executive Summary ▼
- Serangan udara Saudi terjadi 37 kali dalam kurun waktu 24 jam terakhir menggunakan jet tempur F-15 dari pangkalan Khamis Mushait.
- Gempuran militer yang menyasar provinsi Taiz dan Hajjah ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka dari kalangan warga sipil Yaman.
- Pemimpin Ansarullah, Sayyed Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan Yaman berada pada posisi bertahan dan menepis tuduhan menargetkan wilayah Mekah.
IDNWIRE.COM — Serangan udara Saudi kembali menghantam wilayah Yaman sebanyak 37 kali dalam rentang waktu 24 jam. Jet tempur F-15 milik militer Arab Saudi membombardir provinsi Taiz dan Hajjah, memicu jatuhnya korban tewas dan luka dari kalangan warga sipil.
Pemimpin Ansarullah, Sayyed Abdul-Malik al-Houthi, merespons eskalasi ini dengan menepis keras tuduhan bahwa pasukan Yaman menargetkan Mekah. Al-Houthi menyebut klaim tersebut sebagai kebohongan keji yang sengaja dipromosikan untuk mencari pembenaran.
Sasaran operasi militer Yaman murni diarahkan pada pangkalan militer dan fasilitas minyak Arab Saudi. Al-Houthi mendesak negara-negara Muslim menentang eksploitasi nama Mekah untuk kepentingan agresi militer.
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Yahya Saree, mengonfirmasi puluhan serangan udara Saudi tersebut diluncurkan dari pangkalan udara Khamis Mushait.
Gempuran ini menambah panjang daftar fasilitas sipil yang hancur. Sepanjang konflik yang sudah berjalan 12 tahun, operasi militer Arab Saudi secara konsisten menghancurkan pasar, rumah, rumah sakit, dan sekolah. Ribuan wanita dan anak-anak Yaman tercatat sebagai korban tewas akibat operasi militer ini.
Eskalasi pertempuran terbaru bermula dari serangan militer Arab Saudi ke bandara Sanaa tanpa alasan sah.
Pasukan Yaman berpegang pada posisi bertahan menahan gempuran militer yang berjalan di bawah pengawasan Amerika Serikat dan dorongan Israel.
Kepemimpinan Arab Saudi terus menggunakan taktik pengepungan untuk melemahkan dan menindas warga Yaman demi mempertahankan kekuasaan regionalnya. Warga Yaman menolak menyerahkan hak mereka di tengah kampanye penundukan paksa ini.
