Nilai tukar mata uang rupiah diprediksi lanjut menguat pada awal perdagangan pekan depan dengan pergerakan yang diperkirakan fluktuatif di kisaran Rp17.870 sampai Rp17.930 per dolar AS. Mengutip laporan resmi Investor Daily, performa mata uang Garuda pada penutupan perdagangan Jumat sore menorehkan apresiasi sebesar 65 poin atau naik 0,36% ke posisi Rp17.921 per dolar AS bila disandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang bertengger di level Rp17.986 per dolar AS.
Faktor pendorong utama dari dalam negeri bersumber dari laporan Bank Indonesia mengenai Survei Kegiatan Dunia Usaha periode kuartal II-2026. Data menunjukkan nilai Saldo Bersih Tertimbang melejit ke angka 12,97%, tumbuh signifikan jika dibandingkan dengan perolehan kuartal pertama tahun ini yang tercatat di level 10,11%. Dorongan ekspansi ini digerakkan oleh geliat positif pada mayoritas sektor lapangan usaha utama meliputi konstruksi, pertanian, perhutanan, perikanan, serta sektor pertambangan dan penggalian. Sektor akomodasi bersama industri makanan dan minuman ikut mencatat rapor hijau berkat lonjakan permintaan sepanjang libur sekolah dan rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional.
Di tengah laju ekspansi dunia usaha, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia mendeteksi perlambatan tipis pada sektor industri pengolahan domestik. Indeks manufaktur tersebut berada pada level 51,43% untuk kuartal II-2026, mencatat penurunan dari periode kuartal sebelumnya yang mampu menyentuh level 52,03%.
Prospek Nilai Tukar Rupiah Menghadapi Tekanan Global
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan kurs rupiah untuk rentang sepekan ke depan akan bergulir pada kisaran Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS. Perkiraan penguatan ini terjadi saat pasar keuangan internasional masih tertekan oleh kecemasan atas konflik bersenjata berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut berimbas langsung pada bertahannya harga minyak mentah di level tinggi yang memicu kecemasan pasar atas potensi meroketnya inflasi global.
Ibrahim menilai tingginya harga komoditas energi berisiko mempersulit langkah The Federal Reserve dalam merumuskan kebijakan moneter, karena memperbesar peluang inflasi menetap di atas target utama perbankan sentral AS. Sejumlah otoritas moneter Amerika Serikat belakangan ini gencar mengingatkan dampak buruk lonjakan harga energi di Timur Tengah terhadap prospek pemulihan inflasi domestik mereka.
Meskipun rilis data inflasi produsen dan konsumen di AS pekan ini memperlihatkan adanya penurunan tekanan harga fundamental, para pelaku pasar cenderung mengabaikan data historis tersebut. Investor mengkhawatirkan kenaikan harga energi terbaru akibat konflik dapat membalikkan arah tren disinflasi global yang sedang berjalan.