Laju perekonomian Tiongkok menunjukkan performa kokoh sepanjang paruh pertama tahun ini di tengah tekanan tensi geopolitik dunia. Berdasarkan data yang dikutip dari Xinhua, Produk Domestik Bruto (PDB) China tumbuh 4,7 persen secara tahunan pada Semester I 2026. Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat nilai PDB negara tersebut naik sebesar 3,6 triliun yuan atau setara 530 miliar dolar AS. Lompatan nilai ini menjadi pencapaian terbesar untuk periode enam bulan pertama dalam kurun waktu hampir lima tahun terakhir. Angka pertumbuhan ini menempatkan kondisi ekonomi Tiongkok semester I 2026 berada dalam koridor target tahunan pemerintah pada kisaran 4,5 hingga 5 persen.
Wakil Kepala NBS, Mao Shengyong, menegaskan ketahanan ekonomi Tiongkok berada pada tingkat yang sangat kuat walau beroperasi di bawah tekanan eksternal. Struktur ekonomi baru yang disokong oleh manufaktur kelas atas, ekonomi digital, serta sektor layanan modern mampu menyumbang lebih dari 40 persen terhadap total pertumbuhan. Arus modal juga mengalir deras ke sektor masa depan ini, terlihat dari investasi industri teknologi tinggi yang merangkak naik 4,6 persen, diikuti lonjakan investasi produk kekayaan intelektual sebesar 9,4 persen secara tahunan. Yin Xiang, peneliti madya Universitas Sichuan, menilai data investasi tersebut membuktikan bahwa strategi pengembangan kekuatan produktif berkualitas baru di Tiongkok telah teraplikasi nyata di sektor riil, bukan sekadar dokumen kebijakan di atas kertas.
Lonjakan Produksi Chip Domestik
Mesin pertumbuhan baru terbukti menjadi pendorong utama kinerja industri hilir. Juru bicara NBS, Wang Guanhua, mengungkapkan bahwa kapasitas manufaktur komponen digital Tiongkok telah mencapai angka masif dengan volume produksi chip yang kini menyentuh lebih dari 1,5 miliar keping setiap harinya. Sepanjang enam bulan pertama 2026, produksi sirkuit terpadu melonjak tajam hingga 23,1 persen menjadi 279,8 molar unit. Data resmi memperlihatkan transisi dari penggerak ekonomi lama ke sektor digital berjalan optimal, ditandai dengan pertumbuhan pesat pada produk pintar seperti ponsel pintar 5G, mesin cetak 3D, dan robot layanan. Perhitungan awal dari otoritas statistik setempat mengonfirmasi sektor modern ini berkontribusi terhadap hampir separuh total pertumbuhan industri nasional.
Barometer Baru Berbasis Token AI
Indikator vitalitas ekonomi digital Tiongkok kini tercermin lewat penggunaan unit pemrosesan data kecerdasan buatan. Wang Guanhua memaparkan rata-rata penggunaan token AI harian di dalam negeri telah menembus angka beberapa ratus triliun unit. Data Administrasi Data Nasional memperlihatkan lonjakan panggilan token AI harian yang masif sejak awal Maret 2026 hingga melampaui 140 triliun panggilan, meroket seribu kali lipat dibandingkan awal 2024 yang hanya berada di angka 100 miliar.
Pertumbuhan di atas 30 persen konsisten dipertahankan oleh industri berbasis AI, termasuk sektor manufaktur peralatan cerdas kendaraan. Pasar gawai domestik diperkirakan segera mencetak rekor baru pada akhir tahun ini, di mana volume penjualan ponsel pintar dan komputer berbasis AI diproyeksikan bakal melampaui total penjualan gawai konvensional non-AI untuk pertama kalinya. Transformasi manufaktur berbasis digital ini diakui secara global, terbukti dari daftar teranyar Forum Ekonomi Dunia yang menempatkan lebih dari separuh dari 16 "pabrik mercusuar" baru berada di wilayah Tiongkok. Kepala Ekonom Yuekai Securities, Luo Zhiheng, menambahkan bahwa ekosistem AI terpadu ini ikut mengerek kinerja perdagangan luar negeri untuk memenuhi permintaan ekspor pusat data, daya komputasi, dan perangkat terminal ke pasar global.
Fondasi Kuat Kilowatt Listrik Hijau
Kebutuhan komputasi digital yang masif membutuhkan sokongan pasokan energi fisik yang stabil. Tiongkok membentengi ketahanan energinya melalui penguatan produksi dalam negeri serta diversifikasi impor demi meredam dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengacaukan pasokan global. Data NBS menunjukkan volume produksi minyak mentah, gas alam, serta pasokan listrik domestik mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk periode semester pertama.
Hingga akhir Mei, kapasitas pembangkit listrik nasional menembus angka 4,01 miliar kilowatt, menempatkan kapasitas energi Tiongkok di peringkat pertama dunia. Pasokan kilowatt yang melimpah dan murah ini dimanfaatkan sebagai modal utama transformasi industri, menjaga stabilitas biaya hidup masyarakat, sekaligus menekan angka inflasi domestik di kala harga energi dunia melambung tinggi. Keberhasilan pengendalian pasokan ekonomi ini mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 0,2 poin persentase di tengah pemangkasan target pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen. Wakil Kepala Institut Reformasi dan Pembangunan China, Kuang Xianming, menyimpulkan stabilitas ekonomi Tiongkok menjadi jangkar penting bagi situasi pasar global yang dipenuhi ketidakpastian.