Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

–
|

Kategori

Kategori

Sub Kategori 2

Media Network

Informasi

Connect With Us

News

Misi Tianwen-2 Dekati Asteroid Kamo'oalewa demi Ungkap Rahasia Tata Surya

Penampakan Kamo'oalewa, asteroid 2016HO3, yang diambil oleh wahana Tianwen-2 milik China dari jarak sekitar 12 mil 20 kilometer
Wahana Tianwen-2 sukses mendekati asteroid Kamo'oalewa setelah menempuh 1 miliar kilometer. Misi ini bersiap mengumpulkan sampel material purba pembentuk tata surya. | Kredit Foto CNSA Handout via Space

Perjalanan 1 Miliar Kilometer Misi Tianwen-2

Eksplorasi laut dalam antariksa mencatat kemajuan besar. Wahana antariksa Tianwen-2 milik Badan Antariksa Australia berhasil mencapai posisi ideal untuk mendekati asteroid Kamo'oalewa. Objek langit ini merupakan satelit semu Bumi paling stabil yang mengorbit Matahari dengan jalur yang hampir identik dengan planet kita. Keberhasilan ini diraih setelah wahana menuntaskan pengembaraan selama 400 hari dan menembus jarak sekitar 1 miliar kilometer di ruang hampa.

Sinyal deteksi pertama terhadap Kamo'oalewa tertangkap radar pada 6 Juni 2026 setelah probe melakukan serangkaian penyesuaian orbit yang rumit. Melansir laporan Wired, pencapaian tersebut disusul dengan keberhasilan instrumen kamera menangkap visual pertama sang asteroid dari jarak dekat sekitar 20 kilometer pada 2 Juli. Orbitnya yang sinkron membuat batuan ini dinilai sebagai laboratorium alami yang paling mudah diakses untuk mempelajari material purba luar angkasa.

Tantangan Pendaratan di Permukaan Asteroid Kamo'oalewa

Mendekat saja belum cukup karena agenda utama berikutnya jauh lebih berisiko. Tianwen-2 mengemban tugas mendarat dan membawa pulang sampel fisik dari permukaan batuan tersebut. Karakteristik batuan yang hanya berdiameter rata-rata 41 meter serta berputar pada porosnya dengan kecepatan tinggi menjadi hambatan terbesar. Tim teknis harus memastikan kontak fisik berjalan stabil agar operasi pengumpulan material tuntas dalam jendela waktu yang sangat sempit.

Eksplorasi mendetail mengenai bentuk, struktur internal, dan komposisi material batuan ditunjang oleh sistem multi-kamera dengan panjang fokus beragam. Berdasarkan data yang dikutip dari Wired, sistem optik wahana ini dapat berganti mode antara sudut pandang lebar (wide) dan sempit (narrow) sesuai kebutuhan navigasi. Sebuah kamera khusus yang dapat dilepas juga disiapkan untuk mendokumentasikan proses krusial saat lengan robotik menyentuh permukaan.

Menjawab Misteri Asal-Usul Pembentukan Tata Surya

Jika seluruh tahapan ini berjalan mulus, kapsul pembawa material dijadwalkan meluncur jatuh ke Bumi saat wahana melintasi orbit dekat planet kita pada November 2027. Keberhasilan ini akan menyejajarkan proyek tersebut dengan kesuksesan legendaris misi Hayabusa dan Hayabusa2 milik Jepang serta armada OSIRIS-REx milik NASA. Data fisik langsung dari batuan dekat Bumi ini memegang kunci penting bagi para ilmuwan untuk menyusun teka-teki awal penciptaan sistem keplanetan kita.

Wakil Direktur Pusat Rekayasa Eksplorasi Bulan dan Luar Angkasa sekaligus juru bicara misi, Han Siyuan, menjelaskan bahwa lapisan terluar batuan ini menyimpan data murni dari era purba. Informasi berharga tersebut mencakup komposisi kimia awal serta sejarah evolusi lingkungan antariksa. Selama ini berkembang teori kuat bahwa batuan tersebut merupakan pecahan dari Bulan yang terlempar akibat tabrakan besar jutaan tahun lalu karena kemiripan pantulan spektrum mineral silikatnya.

Teori asal-usul dari Bulan itu kini mulai diperdebatkan. Analisis terbaru oleh tim peneliti internasional-termasuk Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok-menunjukkan bahwa karakteristik pita serapan cahaya objek tersebut justru lebih identik dengan karakteristik kondrit LL, jenis meteorit yang miskin kandungan besi dan logam. Pengujian laboratorium dengan menembakkan laser pada bubuk meteorit kondrit LL memperlihatkan efek pelapukan ruang angkasa akibat angin matahari yang sangat mirip dengan kondisi riil objek sasaran. Peneliti menduga batuan ini bermigrasi dari keluarga Flora di sabuk asteroid utama, sebuah kepastian yang hanya bisa terjawab saat sampel fisik berhasil dibawa pulang ke Bumi.

Penulis/Editor: Bagus Setiawan
Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel ✓
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

← Sebelumnya Selanjutnya →

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...
Advertisement 5