Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) merilis perkiraan awal indikator ekonomi makro yang menunjukkan bahwa data PDB Singapura kuartal II/2026 mengalami pertumbuhan sebesar 5,7 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian triwulan kedua ini memperlihatkan sedikit perlambatan jika dikomparasikan dengan laju ekspansi triwulan pertama yang sempat menyentuh angka 6,3 persen. Berdasarkan data yang dikutip dari CNA, performa positif ini dipicu oleh dominasi belanja modal korporasi global pada rantai pasok teknologi mutakhir. Secara basis kuartalan yang disesuaikan musiman, perekonomian negara singa ini mencatatkan kenaikan 1,1 persen, meneruskan tren positif 1,3 persen dari periode tiga bulan pertama.
Lonjakan Sektor Manufaktur Ditopang Permintaan Komponen AI
Klaster industri manufaktur menjadi pilar utama dengan mencetak pertumbuhan masif 12,2 persen, melompat signifikan dari capaian kuartal sebelumnya sebesar 8 persen. Lonjakan performa ini digerakkan oleh tingginya permintaan perangkat keras kecerdasan buatan yang mengerek volume produksi pada klaster elektronik serta teknik presisi. Secara kuartalan, performa sektor ini berbalik ekspansi 5,3 persen setelah sempat terpuruk minus 2,2 persen pada awal tahun. Kendati demikian, kinerja industri pengolahan tidak sepenuhnya mulus karena sektor biomedis mengalami penyusutan produksi, diikuti sektor kimia yang tertekan imbas macetnya pasokan bahan baku dari kawasan Timur Tengah.
Sektor konstruksi domestik mencatatkan perlambatan ekspansi tahunan yang cukup tajam menjadi 6,2 persen, setelah sempat meroket 12,9 persen pada kuartal sebelumnya. Aktivitas pembangunan di lapangan masih disokong oleh pengerjaan proyek publik dan swasta, walaupun secara kuartalan mengalami kontraksi 2,1 persen.
Perkiraan awal performa ekonomi makro ini dikalkulasi menggunakan basis data realisasi perdagangan selama dua bulan pertama triwulan berjalan, yakni April dan Mei, yang membuka ruang revisi lanjutan saat angka final dirilis Agustus mendatang.
Dinamika Industri Jasa dan Proyeksi Optimistis Analis
Sektor perdagangan grosir, ritel, beserta lini transportasi dan penyimpanan menorehkan pertumbuhan sebesar 6,3 persen, melambat dari catatan 9,3 persen pada triwulan lalu. Aktivitas ekspor elektronik yang kuat ikut mengatrol kinerja segmen mesin dan peralatan pada perdagangan grosir, sementara segmen transportasi air mendominasi pertumbuhan pada lini logistik. Kelompok jasa informasi, komunikasi, keuangan, asuransi, serta jasa profesional merangkak naik 3,9 persen ditopang kuatnya penyerapan solusi digital serta bisnis perbankan. Kelompok jasa penunjang lain seperti real estat, kesehatan, dan pendidikan tumbuh 2,7 persen, dengan pengecualian pada industri makanan dan minuman yang gagal mencatat ekspansi.
Kepala Ekonom ASEAN dan Asia Selatan Standard Chartered Bank, Edward Lee, menjelaskan bahwa sektor manufaktur menyumbang 2,5 poin persentase terhadap total pertumbuhan nasional, dengan fokus utama pada segmen semikonduktor. Menurut dia, capaian semester pertama yang berada di kisaran 6 persen memberi peluang bagi MTI untuk merevisi naik target pertumbuhan tahunan 2026 dari kisaran awal 2 hingga 4 persen menjadi 3,5 hingga 4,5 persen.
Pandangan searah diutarakan Ekonom Senior DBS, Chua Han Teng, yang memproyeksikan target setahun penuh di angka 4,3 persen dapat tercapai berkat ketahanan sektor keuangan dan konstruksi. Analis Pasar eToro, Zavier Wong, memberikan catatan kritis bahwa perekonomian saat ini sangat bergantung pada satu klaster orientasi ekspor. Keberlanjutan tren ekonomi ke depan akan sangat ditentukan oleh konsistensi permintaan cip global pada paruh kedua tahun ini.