![]() |
| Di panggung Mayor's Talk APEKSI 2026 di Bogor, Wawali Bekasi Abdul Harris Bobihoe meminta penanganan banjir dan pencemaran Kali Bekasi diurus bersama antardaerah. | Foto: Pemkot Bekasi |
Executive Summary ▼
- Mayor's Talk: Climate and Urban Resilience 2026 berlangsung 27–30 September di Bogor, dihadiri Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mewakili Wali Kota Tri Adhianto pada welcome dinner hari pertama di Plaza Balai Kota Bogor.
- Harris Bobihoe mengangkat isu banjir lintas daerah, pencemaran Kali Bekasi sebagai sumber air baku yang menuntut kepastian hukum, serta permintaan dukungan anggaran pengelolaan sampah tingkat kecamatan dari pemerintah pusat.
- Kota Bekasi menegaskan posisinya dalam Proyek Strategis Nasional pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) dan Program Kampung Iklim (ProKlim), forum yang juga menghadirkan Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq dan Kepala BMKG di puncak acara di IICC Bogor.
IDNWIRE.COM, Bogor — Abdul Harris Bobihoe mewakili Wali Kota Tri Adhianto hadir pada welcome dinner Mayor's Talk: Climate and Urban Resilience 2026 di Plaza Balai Kota Bogor, Minggu (27/9). Agenda pembuka hari pertama forum kepala daerah Komisariat Wilayah III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu diisi Harris Bobihoe bersama Kepala BPKAD Kota Bekasi Yudi dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Kiswatiningsih.
Isu paling tajam yang dibawa Wakil Wali Kota Bekasi adalah pencemaran air di Kali Bekasi. Kota itu masih bergantung pada sungai tersebut sebagai sumber air baku, sehingga menurutnya persoalan ini menuntut penanganan serius, solusi nyata, dan kepastian hukum yang jelas.
Harris Bobihoe juga membuka pembahasan penanganan banjir lintas daerah. Baginya, banjir yang kerap menerjang kawasan perkotaan Jawa Barat hanya bisa dijawab lewat kerja sama antardaerah yang terintegrasi, bukan upaya sendiri-sendiri. "Ini harus ada solusi nyata serta penanganan serius," ujarnya mengenai pencemaran air yang terjadi belakangan ini.
Di forum yang mengusung tema "Climate and Resilient Cities" ini, Harris Bobihoe menunjukkan bekal Kota Bekasi. Pemkot Bekasi tergabung dalam Proyek Strategis Nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), sekaligus terus menggerakkan Program Kampung Iklim atau ProKlim — program pemulihan iklim yang menjangkar kebijakan nasional ke tingkat lokal.
Pendekatannya partisipatif dan berbasis lokal, melibatkan warga, pemerintah, sektor swasta, hingga lembaga swadaya masyarakat. Lewat ProKlim, aksi iklim diharapkan berdampak langsung pada ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat akar rumput.
Tidak berhenti di program besar, Wawali Bekasi menyorot sampah rumah tangga. Kota Bekasi menumbuhkan kesadaran warga memilah dan mengelola sampah dari rumah, dan Harris Bobihoe meminta pemerintah pusat menyediakan dukungan anggaran pengelolaan sampah di tingkat kecamatan.
Pemerintah Kota Bogor resmi menjadi tuan rumah Mayor's Talk 2026 yang berlangsung 27–30 September. Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam menjelaskan, Komwil III adalah komwil terbesar dengan 25 kota di bawahnya. Bogor dipilih karena inovasi nyatanya dalam pengelolaan sampah dan lingkungan.
Ketua Komwil III APEKSI sekaligus Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid menegaskan koordinasi antarkepala daerah sebagai agenda penting menyikapi isu strategis. Menurutnya, fondasi sebuah "Kota Tangguh" berawal dari integritas dan kepemimpinan kepala daerah.
Puncak rangkaian acara berlangsung di IPB International Convention Center (IICC) Bogor, menghadirkan Wakil Menteri Koordinator Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq sebagai pembuka, Kepala BMKG, Menteri Lingkungan Hidup atau perwakilannya, akademisi, hingga praktisi pengelolaan sampah seperti Rekosistem.
