Executive Summary ▼
- Persaingan AI AS dan China kian ketat setelah berbagai pengembang asal China berhasil menciptakan model kecerdasan buatan berbiaya murah yang sanggup menandingi raksasa teknologi Amerika.
- Investasi swasta sektor AI di Amerika Serikat mencapai US$ 285,9 miliar (sekitar Rp 5.146,2 triliun) sepanjang 2025, jauh mengungguli China yang mencatatkan angka US$ 12,4 miliar (sekitar Rp 223,2 triliun).
- China mengamankan keunggulan rantai pasok industri lewat kontrol ekspor lima mineral tanah jarang vital serta kapasitas produksi listrik dua kali lipat lebih besar dibanding AS untuk menopang data center.
IDNWIRE.COM — Persaingan AI AS dan China kini memasuki fase yang kian dinamis. Kesenjangan kemampuan model kecerdasan buatan di antara kedua negara tercatat makin menyempit, sebagaimana melansir laporan Associated Press (AP) berdasarkan AI Index Report 2026 terbitan Stanford University serta pandangan para ahli.
Analis senior Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Samm Sacks, menilai peta kekuatan AI global saat ini sangat mudah berubah. China terbukti mampu merancang model komputasi yang sanggup bersaing langsung dengan pengembang asal AS, kendati terus dihantam pembatasan akses semikonduktor canggih dari Washington.
Peta kekuatan ini menjadi krusial mengingat agenda pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 di Washington.
Jurang Investasi Swasta dan Dominasi Rantai Pasok
Dari segi permodalan, korporasi AS memegang kendali finansial yang sangat dominan. Sepanjang 2025, kucuran investasi swasta AS di sektor AI menembus angka US$ 285,9 miliar atau setara Rp 5.146,2 triliun (kurs Rp 18.000/US$).
Angka tersebut berbanding terbalik dengan nilai investasi perusahaan China yang hanya mencatatkan US$ 12,4 miliar (sekitar Rp 223,2 triliun). AS juga memegang hak eksklusif atas fasilitas produksi semikonduktor paling mutakhir, termasuk prosesor tingkat tinggi seperti Nvidia Blackwell.
Namun, Beijing membalas ketimpangan modal tersebut melalui penguasaan rantai pasok hulu. China memegang kendali atas produksi mineral tanah jarang (rare earth) dan telah memperketat kontrol ekspor lima jenis mineral penting beserta alat pemurniannya sejak Oktober.
Selain itu, pasokan energi China mencapai lebih dari dua kali lipat kapasitas listrik AS, memberikan jaminan pasokan daya yang melimpah untuk pengoperasian data center AI skala besar.
Gebrakan Efisiensi Model AI Negeri Tirai Bambu
Lompatan teknologi China dipelopori oleh startup DeepSeek yang mengejutkan industri global. Melalui rilis makalah ilmiahnya, DeepSeek mengungkap proses pelatihan model AI terbarunya hanya menghabiskan biaya komputasi di bawah US$ 6 juta (sekitar Rp 108 miliar) menggunakan cip Nvidia H800. Nilai ini sangat kecil jika dibandingkan dengan anggaran fantastis yang digelontorkan OpenAI maupun Google.
Kini DeepSeek telah menggelar model terbarunya, DeepSeek-V4.1-Flash, yang membawa arsitektur mixture-of-experts (MoE) 552 miliar parameter. Model berfitur native visual understanding ini mengompres kebutuhan KV cache hingga tersisa seperempat memori HBM dibanding generasi terdahulu, sehingga memangkas biaya operasional API secara drastis.
Di sektor lain, Moonshot AI turut memperkuat barisan China lewat peluncuran Kimi K2.8 Preview. Pembaruan ini menghadirkan fitur Kimi Code dengan batas konteks mencapai 1 juta token, tiga tingkatan penalaran terukur, serta dukungan penuh untuk ekosistem multiagent dan kendali jarak jauh (remote control).
Inovasi Agen dan Penghematan Token Raksasa AS
Pihak Amerika Serikat tidak tinggal diam merespons manuver tersebut. OpenAI merilis ChatGPT Work yang difokuskan untuk menangani pekerjaan korporasi rumit, mulai dari riset mendalam hingga pembuatan dokumen visual terintegrasi. OpenAI juga memperbarui ChatGPT Images 2.5 guna memberikan presisi pengeditan gambar yang lebih detail.
Google mengekor lewat integrasi fitur agentic video understanding pada lini Gemini 3.7 Flash, 3.6 Flash, serta 3.5 Flash-Lite. Teknologi analisis video berbasis agen ini diklaim mampu memangkas penggunaan token hingga 88 persen dan menekan biaya operasional sebesar 66 persen. Lini produk Gemini juga diperkuat oleh fitur pendukung seperti Deep research, Canvas, Gems, serta percakapan suara Gemini Live.
Sementara itu, Anthropic melepas model Claude Fable 5.1 untuk kebutuhan coding umum dengan struktur harga cache reads 25 persen lebih murah dibanding versi pendahulunya. Anthropic turut menyediakan Claude Mythos 5.1 melalui jalur akses tepercaya khusus untuk penanganan risiko keamanan siber dan riset ilmu hayati.
