Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

–
|

Kategori

Kategori

Sub Kategori 2

Media Network

Informasi

Connect With Us

News

Perang Iran Menipiskan Stok Senjata AS, Pentagon Hadapi Hambatan Produksi

menteri-pertahanan-as-pete-hegseth
Perang Iran berdampak pada inventaris strategis AS. Laporan Pentagon mencatat stok munisi menipis, kerusakan fasilitas, pesawat, dan drone. | (ist)
Executive Summary ▼
  • Perang Iran membuat inventaris strategis AS menipis dan memperlihatkan hambatan industri dalam memasok munisi serta persenjataan canggih.
  • Serangan Iran merusak atau menghancurkan ratusan bangunan dan infrastruktur pangkalan AS di sejumlah negara Timur Tengah.
  • Biaya perang yang disebut Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencapai 37,5 miliar dolar AS, sementara operasi evakuasi warga AS menelan 11 juta dolar AS hingga akhir Juni.

IDNWIRE.COM — Perang Iran telah membuat inventaris strategis Amerika Serikat menipis dan mengungkap hambatan industri dalam memasok munisi untuk persenjataan canggih. Temuan itu tercantum dalam laporan pertama Inspektorat Jenderal Departemen Pertahanan AS yang dirilis pada Senin (14/9/2026), sebagaimana diberitakan NBC News.

Laporan tersebut mencakup asesmen periode 1 April hingga 30 Juni 2026. Dokumen itu untuk pertama kalinya memuat foto kerusakan pesawat AS, pangkalan militer, serta pos diplomatik Amerika di kawasan Timur Tengah.

Serangan Iran tercatat merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta infrastruktur lain di pangkalan AS yang berada di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Oman, dan Yordania.

Puluhan pesawat dan drone AS juga dilaporkan mengalami kerusakan atau hancur akibat perang tersebut.

Kerusakan fasilitas diplomatik AS turut dihitung dalam laporan. Pos diplomatik di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan UEA disebut mengalami dampak paling parah dengan estimasi kerugian mencapai 184 juta dolar AS.

Nilai kerusakan fasilitas diplomatik secara keseluruhan belum dirilis ke publik.

Laporan Inspektorat Jenderal mencatat perang telah menguras sebagian inventaris strategis AS. Persediaan tersebut mencakup kebutuhan persenjataan canggih yang menghadapi hambatan dari sisi industri pemasok.

Pentagon disebut sedang menyederhanakan proses pengadaan dan memperpendek waktu tunggu produksi. Pemerintah AS juga menimbun material kritis, komponen, serta jenis amunisi tertentu untuk menghadapi situasi darurat.

Sejumlah ahli sebelumnya memperkirakan kontraktor militer membutuhkan sekitar tiga tahun untuk mengembalikan kapasitas produksi rudal terbaru dan rudal pencegat ke tingkat sebelum perang.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada akhir Juli menyampaikan kepada Kongres bahwa perang Iran telah menghabiskan anggaran hingga 37,5 miliar dolar AS.

Departemen Luar Negeri AS pada awal Juni mencatat biaya perang secara keseluruhan sebesar 113 juta dolar AS dalam laporan yang mencakup respons kontingensi. Hampir 80 juta dolar AS dari angka tersebut digunakan untuk kebutuhan seperti evakuasi personel, keluarga, dan warga negara AS di kawasan.

Pemerintah AS juga melakukan evakuasi sekitar 9.000 warga negaranya dari sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

Operasi evakuasi dilakukan melalui penerbangan komersial dan pribadi, serta jalur darat dan air. Sampai akhir Juni, biaya operasi tersebut mencapai 11 juta dolar AS.

Evakuasi terbesar berlangsung dari Israel, kemudian Irak dan Yordania. UEA mencatat biaya evakuasi terbesar. Sebanyak 1.200 warga Amerika dari negara tersebut dipindahkan menuju Istanbul, Athena, dan Washington dengan biaya mencapai 4 juta dolar AS.

Presiden Donald Trump membantah gambaran mengenai keterbatasan persenjataan AS. Dalam unggahan di akun Truth Social pada Senin, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memproduksi lebih banyak senjata elite dan canggih dibanding masa sebelumnya dan senjata tersebut dikirim setiap hari kepada pasukan AS di Timur Tengah dan wilayah lain.

Dalam unggahan dua pekan sebelumnya, Trump juga menyatakan AS memiliki jumlah amunisi yang secara virtual tidak terbatas.

Pete Hegseth turut membantah laporan Inspektorat Jenderal Pentagon tersebut.

Laporan Inspektorat Jenderal Departemen Pertahanan AS merupakan dokumen wajib berdasarkan mandat Kongres. Dokumen yang dirilis pada 14 September itu menjadi laporan pertama lembaga pemerintahan AS yang merinci biaya, cakupan, dan skala dampak perang Iran terhadap militer AS, Departemen Luar Negeri, dan badan pemerintahan lainnya.

Penulis/Editor: Juanda Data Wijaya
Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel ✓
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

← Sebelumnya Selanjutnya →

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...
Advertisement 5