![]() |
| Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada 16 September 2026. IHSG turun 0,38%, rupiah menguat 0,03%, sementara imbal hasil SBN melandai. | Foto: Ilustrasi gunakan AI |
Executive Summary ▼
- Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada Rabu, 16 September 2026, dengan IHSG melemah 0,38% ke 6.436,85 dan rupiah menguat 0,03%.
- Investor asing mencatat net sell Rp624,72 miliar di pasar saham, sementara sektor utilities dan teknologi menjadi penekan utama IHSG.
- Imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun dari 7,156% menjadi 7,141%, sedangkan indeks dolar AS melemah 0,05% ke 99,564.
IDNWIRE.COM — Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. IHSG melemah 0,38% ke level 6.436,85, sedangkan rupiah justru berbalik menguat 0,03% ke posisi Rp17.675 per dolar AS.
Pergerakan berbeda juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun tipis dari 7,156% menjadi 7,141%.
Pelemahan IHSG terjadi ketika mayoritas saham bergerak turun. Sebanyak 439 saham melemah, 201 saham menguat, dan 151 saham tidak berubah.
Nilai transaksi saham tercatat Rp12,3 triliun dengan volume perdagangan mencapai 24,6 miliar saham. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp624,72 miliar.
Sektor utilities menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 1,84%. Sektor teknologi menyusul dengan koreksi 1,36%.
Sejumlah saham tetap mencatat penguatan tajam meski IHSG berakhir di zona merah.
PT Magna Finance Tbk (MGNA) menjadi top gainers setelah naik 34,46% ke Rp199. PT Pakuan Tbk (UANG) berada berikutnya dengan kenaikan 24,93% ke Rp4.210.
PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) juga menguat 24,88% dan ditutup pada level Rp1.280.
Tekanan paling besar di jajaran saham yang turun terjadi pada PT Inter Delta Tbk (INTD). Saham INTD anjlok 15% ke Rp272.
PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) menyusul dengan penurunan 14,88% ke Rp366. PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) terkoreksi 14,39% ke Rp119.
Rupiah mengakhiri perdagangan di Rp17.675 per dolar AS atau naik tipis 0,03% berdasarkan data Refinitiv.
Penguatan tersebut menghentikan pelemahan rupiah yang berlangsung selama empat hari perdagangan berturut-turut.
Pada awal perdagangan, rupiah sempat berada di Rp17.700 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga mata uang Garuda menyentuh level terlemah Rp17.740 per dolar AS.
Menjelang penutupan, rupiah berbalik arah. Posisi akhir Rp17.675 per dolar AS berarti rupiah menguat 65 poin dari level terlemahnya pada perdagangan tersebut.
Indeks dolar AS atau DXY ikut bergerak turun. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia itu berada di level 99,564 pada pukul 15.00 WIB.
DXY tercatat melemah 0,05%.
Pasar obligasi menunjukkan pergerakan positif melalui penurunan imbal hasil SBN tenor 10 tahun.
Yield SBN 10 tahun berada di 7,141%, turun dari posisi sebelumnya 7,156%. Penurunan imbal hasil menunjukkan adanya permintaan terhadap SBN, yang berarti harga surat utang tersebut bergerak naik.
