Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

|

Connect With Us

News

Imbas Konflik Iran, Pentagon Resmi Perpanjang Penempatan Pasukan AS di Timur Tengah

Foto profil penulis

Oleh Redaksi idnwire

Kamis, September 03, 2026 --:-- WIB

Tentara AS di timur tengah
Pentagon memperpanjang masa penempatan pasukan AS di Timur Tengah hingga 2027 menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang berpotensi melampaui estimasi awal. | Ilustrasi Foto: most1058
Executive Summary
  • Kebijakan penempatan pasukan AS di Timur Tengah resmi diperpanjang hingga 2027 untuk menghadapi potensi perang berdurasi panjang dengan Iran.
  • Pentagon membatalkan estimasi operasi kilat yang sempat diutarakan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada awal eskalasi kawasan.
  • Sekitar 50.000 personel militer Amerika Serikat dipertahankan di kawasan Teluk meski memicu ancaman kelelahan prajurit dan penundaan pemeliharaan alutsista.

Pemerintah Amerika Serikat menetapkan jadwal baru bagi militer di kawasan Teluk dengan memperpanjang penempatan pasukan AS di Timur Tengah hingga 2027. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal pada Selasa (2/9/2026), keputusan Pentagon ini mengonfirmasi estimasi anyar bahwa perselisihan militer dengan Teheran bakal berjalan melampaui perhitungan awal.

Ketetapan tersebut sekaligus meralat klaim awal Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang sempat menjanjikan operasi cepat terhadap Iran saat pertempuran baru meletus.

Perubahan Durasi Tugas dan Pengerahan Armada

Meningkatnya intensitas serangan di lapangan memaksa instansi pertahanan AS memodelkan ulang jadwal operasional secara rinci. Durasi tugas standar unit pertahanan udara Angkatan Darat AS yang semula berdurasi sembilan bulan resmi ditambah menjadi 12 bulan.

Unit-unit militer yang ditarik dari kawasan Eropa serta Pasifik tercatat mengemban masa penugasan di Teluk hingga melewati batas satu tahun. Perubahan alokasi personel ini menyisakan sekitar 50.000 tentara AS aktif di kawasan tersebut untuk menopang skenario operasi Presiden Donald Trump.

Pakar pertahanan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Tom Karako, menilai tempo operasional tinggi ini langsung berdampak negatif pada kesiapan tempur. Praktik penugasan panjang memicu kelelahan prajurit, menunda jadwal perawatan rutin alutsista, dan menghambat program modernisasi militer secara menyeluruh.

Opsi Eskalasi dan Peran Tempur Militer

Pusat komando AS di lokasi memikul mandat pengerahan tempur yang intensif. Personel di lapangan bertugas mencegat tembakan rudal balistik Iran, mengawal jalur kapal komersial di Selat Hormuz, serta memberlakukan blokade laut total terhadap wilayah pesisir dan pelabuhan Iran.

Di jalur politik, Trump memadukan pertahanan militer dengan sanksi ekonomi ketat demi menekan kondisi finansial Iran sembari menanti potensi gejolak domestik rakyat setempat. Trump menegaskan kekhawatiran para penasihat politik soal potensi tergerusnya suara Partai Republik pada pemilu sela November mendatang tidak memengaruhi opsi militernya.

Pengarahan internal militer bulan lalu menunjukkan Trump sempat menimbang beberapa skenario serangan lanjutan yang lebih agresif. Rencana tersebut mencakup gelombang serangan udara intensif, pengerahan pasukan darat guna menguasai pulau-pulau strategis Iran di Selat Hormuz, hingga pengeboman fasilitas nuklir bawah tanah di benteng karang Gunung Pickaxe.

Sumber: Kompas
Penulis / Editor: Imron Darmawanto/Bagus Setiawan
Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...

Info Gawai

Memuat artikel terbaru...