![]() |
| BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang melingkupi Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. | Foto: Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth |
Executive Summary ▼
- Analisis satelit BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang meluas hingga ke DKI Jakarta.
- Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengimbau warga memakai masker serta meminta Pemprov DKI menyiagakan fasilitas kesehatan.
- Pemprov DKI Jakarta didesak memperketat koordinasi lintas instansi untuk mengantisipasi gangguan mobilitas, transportasi, dan kualitas udara.
idnwire.com — Analisis citra satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Isyarat pemantauan 24 jam BMKG menunjukkan sebaran partikel abu tersebut melingkupi atmosfer wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu, serta memengaruhi kondisi Selat Sunda dan jalur penerbangan.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth meminta masyarakat Jakarta tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Pria yang akrab disapa Bang Kent tersebut mengingatkan bahwa paparan partikel abu berisiko mengganggu saluran pernapasan dan kondisi lingkungan.
Fasilitas Kesehatan Didesak Siaga
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan. Warga yang harus keluar rumah diwajibkan menggunakan masker memadai untuk menekan risiko paparan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) DPD PDI Perjuangan Jakarta itu menegaskan fasilitas kesehatan di Jakarta wajib bersiap sejak dini. Langkah antisipasi diperlukan jika terjadi kenaikan pasien dengan keluhan iritasi mata, batuk, atau gangguan pernapasan.
Pembersihan Lingkungan dan Koordinasi Terpadu
Proses pembersihan abu pada permukaan rumah, kendaraan, atau fasilitas umum harus dilakukan secara hati-hati tanpa menyapu kering yang membuat partikel kembali beterbangan. Kebersihan pasokan air dan makanan juga harus dijaga agar tidak terkontaminasi.
Pria yang juga Alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII ini mendesak Pemprov DKI Jakarta melakukan koordinasi lintas instansi bersama Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, hingga aparat lapangan. Langkah terpadu ini mendesak mengingat tingginya mobilitas Jakarta yang berpotensi terganggu pada sektor transportasi dan jarak pandang jalan.
Masyarakat diminta tidak menyebarkan foto, video, atau informasi tak terverifikasi di media sosial guna mencegah kepanikan. Pemprov DKI Jakarta diharapkan menyajikan data kualitas udara dan arah angin secara cepat, akurat, dan berkala.
