![]() |
| Puluhan tentara tewas akibat gempuran drone dan rudal Houthi di Marib serta Hadramout. Yaman kini berada di ambang perang terbuka. | Ilustrasi Foto: Dihasilkan AI |
Executive Summary ▼
- Serangan drone dan rudal Houthi ke kamp militer pemerintah Yaman di Marib dan Hadramout menewaskan sedikitnya 30 tentara dan melukai 15 lainnya, menandai operasi skala besar pertama setelah jeda pertempuran sejak April 2022.
- Perebutan wilayah kaya minyak dan gas di Marib menjadi pemicu utama eskalasi, dengan analisis yang menilai Houthi memanfaatkan masa negosiasi bertahun-tahun untuk memperkuat persenjataan dan menutup jalur diplomasi.
- Risiko perang terbuka total semakin membesar seiring menyempitnya ruang penahanan diri dari Arab Saudi dan pemerintah Yaman, yang terdesak untuk melancarkan aksi balasan militer.
Gempuran drone dan serangan rudal Houthi menghantam kamp-kamp militer pemerintah Yaman di Marib dan Hadramout pada Kamis. Sedikitnya 30 tentara tewas serta 15 lainnya luka-luka dalam operasi militer berskala besar pertama sejak beberapa tahun terakhir, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Juru bicara militer Houthi, Yaya Saree, menuduh adanya pergerakan pasukan Saudi sebelum serangan diluncurkan. Pihaknya mengklaim gempuran tersebut menghancurkan gudang senjata dan memicu jatuhnya ratusan korban di pihak lawan. Houthi kini menetapkan status siaga tinggi mengantisipasi balasan dari pasukan pemerintah.
Potensi Perang Darat di Marib
Pengamat dari Pusat Studi Strategis Sanaa, Adel Dashela, menilai serangan ini mengindikasikan niat Houthi menguasai wilayah kaya minyak dan gas di Marib. Eskalasi ini mengancam memicu perang darat terbuka. Jika pertempuran meluas ke seluruh front, kekerasan yang terjadi diprediksi jauh lebih berdarah ketimbang fase konflik sebelumnya.
Perebutan kendali atas Marib berpotensi menjadi titik krusial. Meski Houthi unggul dalam persenjataan rudal, konfrontasi menyeluruh akan menyulitkan posisi mereka di lapangan saat berhadapan langsung dengan kekuatan gabungan pemerintah.
Kegagalan Diplomasi Perdamaian
Serangan ke basis militer pemerintah ini mengakhiri jeda pertempuran relatif yang berlangsung sejak gencatan senjata PBB pada April 2022. Anggota Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, Sheikh Othman Majali, menegaskan tidak ada ruang tersisa untuk negosiasi selama kelompok Houthi terus melancarkan aksi militer.
Analis politik Yaman, Saddam Al-Huraibi, menilai Houthi memanfaatkan masa perundingan bertahun-tahun untuk menumpuk persenjataan. Langkah tersebut mempersiapkan mereka melancarkan operasi lokal hingga menyerang sasaran di Arab Saudi dan Laut Merah, sekaligus menutup jalur diplomasi.
Kebijakan Penahanan Arab Saudi Teruji
Arab Saudi dan pemerintah Yaman sejauh ini masih menerapkan strategi penahanan diri guna mencegah eskalasi liar. Namun, Senior Analis International Crisis Group, Ahmed Nagi, memperingatkan bahwa ruang untuk menahan diri kian menyempit. Tekanan untuk membalas secara militer terus meningkat seiring intensitas gempuran Houthi.
Ledakan yang kembali berulang di Sanaa mengonfirmasi kekhawatiran warga sipil akan kembalinya masa kelam perang. Tanpa adanya de-eskalasi mendesak, indikator di lapangan menunjukkan Yaman bergerak cepat menuju perang terbuka total.
