Executive Summary ▼
- Pembaruan buku ajar nasional untuk seluruh jenjang pendidikan (SD–SMA) resmi dimatangkan oleh pemerintah setelah inspeksi langsung Kepala Negara mendapati fisik buku yang mudah rusak dan ukuran huruf terlalu kecil.
- Evaluasi total berfokus pada peningkatan kualitas fisik seperti bahan kertas yang lebih tahan lama agar dapat diwariskan ke adik kelas serta desain tampilan visual yang lebih menarik dan nyaman dibaca.
- Perubahan materi pembelajaran difokuskan pada penguatan karakter kebangsaan, kualitas pembelajaran sains dan teknologi berbasis matematika, penguasaan bahasa Inggris, serta pembiasaan kembali budaya wajib membaca di sekolah.
Pemerintah mematangkan langkah pembaruan buku ajar nasional untuk seluruh jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA. Instruksi tersebut diterbitkan usai Kepala Negara meninjau langsung fasilitas materi pembelajaran di sejumlah sekolah dan menemukan kualitas cetak yang dinilai kurang memadai.
Keterangan resmi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada Jumat, 7 Agustus 2026, mencatat inspeksi langsung tersebut mendapati kondisi buku pelajaran yang mudah rusak serta penggunaan ukuran huruf yang terlalu kecil bagi siswa SD. Pemerintah kini mengumpulkan materi buku dari semua tingkat pendidikan untuk dievaluasi total dan dibandingkan dengan standar buku ajar milik negara-negara tetangga.
Perbaikan Fisik dan Durabilitas Buku
Peningkatan kualitas fisik buku menjadi salah satu poin utama evaluasi. Pemerintah menargetkan penggunaan bahan kertas yang lebih tahan lama agar buku pelajaran dapat diwariskan atau digunakan kembali oleh adik kelas pada tahun ajaran berikutnya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan perbaikan tampilan visual meliputi penggunaan ukuran tulisan yang lebih besar dan nyaman dibaca. Desain fisik buku dirancang lebih menarik guna mendukung efektivitas belajar siswa di kelas.
Penyesuaian Materi dan Budaya Membaca
Perubahan materi difokuskan pada penguatan karakter kebangsaan, peningkatan kualitas pembelajaran sains dan teknologi dengan dasar matematika, serta penguasaan bahasa asing seperti bahasa Inggris. Penyesuaian konten ini disiapkan untuk meningkatkan daya saing generasi muda di tingkat global.
Pemerintah melalui koordinasi bersama Kementerian Dikdasmen juga berencana menggiatkan kembali budaya wajib membaca buku di lingkungan sekolah. Kebiasaan membaca rutin dan membuat rangkuman karya literatur diadopsi dari pola pendidikan keluarga yang dinilai efektif membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
