![]() |
| MUI mendesak kepolisian mengusut aksi promosi miras berkedok challenge Ad-Dhuha di The Sounds Project. Panitia klaim aksi booth sponsor di luar koordinasi. | Foto arsip: Majelis Ulama Indonesia |
Executive Summary ▼
- MUI mendesak polisi mengusut promosi miras di The Sounds Project Ancol yang menggunakan tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha dengan imbalan minuman keras.
- Aksi tersebut dinilai MUI sebagai penistaan agama karena melukai perasaan umat Islam dan melecehkan simbol agama.
- Kepolisian diminta mengusut semua pihak terlibat, dari penggagas hingga pemberi izin, sebab panitia tidak bisa mengelak tanggung jawab hukum.
- Kasus ini menjadi viral dan menuai kecaman luas dari warganet atas praktik pemasaran yang dianggap melecehkan agama.
Aparat kepolisian didesak menelusuri pihak penyelenggara dan penggagas promosi miras berkedok challenge Ad-Dhuha yang berlangsung pada gelaran musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara. Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M. Cholil Nafis menegaskan penggunaan ayat suci Al-Qur’an sebagai alat pemasaran minuman keras merupakan tindakan tidak layak yang melukai perasaan umat Islam.
"Pak polisi, para penegak hukum, cari orang itu, diperiksa, diselidiki, dan harus diproses secara hukum. Ini tidak boleh dibiarkan demi tatanan beragama yang baik dan rukun di Indonesia," ujar Kiai Cholil di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Tuntutan Penyelidikan dan Tanggung Jawab Hukum
Kiai Cholil menyatakan panitia acara tidak bisa mengelak dari kewajiban hukum dengan alasan aksi tersebut berjalan tanpa koordinasi. Penyelidikan harus menyasar seluruh rantai pelaksanaan, mulai dari pencetus gagasan, pelaksana di lapangan, hingga pihak yang memberikan ruang atau izin bagi booth tempat gimik tersebut berlangsung. Jika hasil pemeriksaan menemukan indikasi kuat penistaan agama, kepolisian diminta memproses seluruh pihak terlibat tanpa ragu.
Praktik menempatkan ayat suci dalam konteks produk yang dilarang ajaran Islam dinilai sebagai bentuk pelecehan simbol agama. MUI meminta seluruh pihak membuka data secara transparan agar proses hukum berjalan objektif sekaligus mencegah kejadian serupa terulang pada masa mendatang.
Pemicu Kecaman Warganet di Festival Musik
Dugaan pelanggaran ini mengemuka setelah akun Threads @JARRKOJARR membagikan rekaman pengalamannya saat mendatangi festival The Sounds Project pada 9 Agustus 2026. Di lokasi acara, booth minuman beralkohol merek Newport menyediakan gimik promosi berupa tantangan menghafal Surah Ad-Dhuha. Pengunjung yang berhasil melafalkan ayat tersebut dijanjikan imbalan sebotol minuman keras.
Unggahan tersebut langsung memicu gelombang protes dari masyarakat. Publik menilai tindakan pemasaran yang memanfaatkan ritual keagamaan untuk produk bernafsu komersial miras melanggar etika dasar dan tatanan sosial.
Sikap Resmi Manajemen The Sounds Project
Merespons polemik tersebut, pihak manajemen The Sounds Project mengunggah pernyataan resmi melalui akun Instagram @thesoundsproject pada Selasa (11/8/2026). Penyelenggara menyatakan mengecam keras tindakan pengelola booth Newport dan menegaskan bahwa promosi tersebut berjalan tanpa arahan, pengetahuan, maupun persetujuan panitia.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi dalam bentuk apa pun," tulis manajemen The Sounds Project.
Panitia menjelaskan butuh waktu untuk merilis pernyataan resmi demi mengumpulkan bukti dan memverifikasi kronologi secara akurat. Sebagai langkah penanganan, penyelenggara telah menegur keras pihak sponsor Newport, menuntut penyelesaian kasus hingga tuntas, mengawal proses identifikasi oknum yang terlibat, serta menggelar evaluasi internal menyeluruh.
