Breaking News

Rupiah Berisiko Tembus Rp18.000 per Dolar AS Besok akibat Sentimen Global dan Domestik

Rupiah diproyeksi tembus Rp18.000 per dolar AS akibat defisit neraca dagang Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar dan sorotan Fitch Ratings terhadap ekonomi makro.
Rupiah Berisiko Tembus Rp18.000 per Dolar AS Besok akibat Sentimen Global dan Domestik
Ilustrasi Neraca Dagang Defisit, Rupiah Pekan Ini Rentan Melemah | canva


Nilai tukar mata uang Garuda mencatat performa negatif pada penutupan perdagangan Senin sore (6/7/2026) dengan merosot 32 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp17.995 per dolar AS. Kemerosotan dari posisi sebelumnya di level Rp17.963 ini membuat rupiah berisiko tembus Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 7 Juli 2026. Proyeksi pasar menunjukkan pergerakan kurs akan sangat fluktuatif namun tetap berada dalam tren melemah yang pekat.

Melansir laporan Investor Daily, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS. Kombinasi dari guncangan geopolitik dunia dan rilis data ekonomi domestik yang memburuk menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar harian ini.

Tekanan Sentimen Global dan Arah Kebijakan The Fed

Pasar keuangan global saat ini sedang mencermati ketegangan geopolitik di Eropa Timur serta dinamika perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Pelaku pasar menangkap sinyal yang membingungkan dari Washington dan Teheran terkait tata kelola jalur air strategis. Kondisi ini diperumit oleh klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran menyetujui hampir seluruh poin krusial yang diajukan negaranya.

Faktor eksternal lain yang menahan laju mata uang berkembang adalah penantian pasar terhadap risalah rapat bank sentral AS. Pelaku ekonomi menunggu rilis dokumen pertemuan Federal Reserve bulan Juni pekan ini demi membaca arah kebijakan suku bunga. Situasi pasar diliputi ketidakpastian mengingat Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, sedang berencana merombak total pola komunikasi publik otoritas moneter tersebut.

Neraca Dagang Defisit dan Sorotan Lembaga Rating

Kondisi internal Indonesia ikut memperparah proyeksi kurs rupiah hari ini. Sentimen negatif mengalir deras setelah lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, merilis evaluasi makroekonomi Indonesia. Dokumen Fitch menyoroti tiga rapor merah: pelemahan nilai tukar yang terus terjadi, penurunan cadangan devisa, serta gelombang arus modal keluar (capital outflow) dalam skala masif.

Kecemasan investor makin berlipat ganda setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data perdagangan internasional terbaru. Indonesia mencatat neraca dagang defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Angka minus ini menjadi pukulan telak bagi pasar karena sekaligus menghentikan catatan manis surplus perdagangan yang sempat bertahan selama 72 bulan berturut-turut. Keseluruhan faktor domestik inilah yang memicu kepanikan pasar dan menekan posisi rupiah ke zona merah.

Type and hit Enter to search

Close