Breaking News

China Uji Tembak Rudal Strategis dari Kapal Selam Nuklir di Samudra Pasifik, Picu Ketegangan Kawasan

Angkatan Laut China sukses uji tembak rudal strategis dari kapal selam nuklir di Samudra Pasifik. Manuver Beijing memicu kecaman keras dari negara-negara kawasan. Penguatan senjata nuklir China diprediksi terus meroket, dari 500 hulu ledak operasional pada 2023 menjadi lebih dari 1.000 pada tahun 2030.
Kapal Selam Rudal Balistik Bertenaga Nuklir Kelas Tipe 094 Tiongkok
Ilustrasi Kapal Selam Rudal Balistik Bertenaga Nuklir Kelas Tipe 094 Tiongkok | Foto militarywatchmagazine


Kekuatan militer Beijing kembali menghentak kawasan Pasifik Selatan melalui demonstrasi persenjataan berat yang jarang terjadi. Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sukses melepaskan tembakan peluru kendali dari bawah laut pada Senin (6/7/2026) siang pukul 12.01 waktu setempat. Aksi China uji tembak rudal strategis dari lambung kapal selam nuklir ini langsung memantik reaksi keras berupa kecaman dari berbagai negara tetangga di sekitar kawasan perairan tersebut.

Berdasarkan data yang dikutip dari CNN Indonesia, proyektil yang diluncurkan merupakan rudal strategis dengan muatan hulu ledak simulasi untuk keperluan pelatihan. Juru bicara Angkatan Laut China, Wang Xuemeng, mengonfirmasi bahwa senjata tersebut meluncur ke laut lepas Samudra Pasifik dan jatuh tepat di koordinat sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Otoritas Beijing berkilah operasional ini sekadar agenda rutin latihan militer tahunan, bahkan mengklaim telah mengirim notifikasi awal ke negara-negara terkait melalui saluran diplomatik.

Peringatan Dini untuk Papua Nugini dan Selandia Baru

Kabar mengenai manuver berbahaya ini sebenarnya sudah terendus oleh intelijen beberapa negara sebelum peluncuran dilakukan. Menteri Luar Negeri Papua Nugini, Justin Tkatchenko, blak-blakan mengaku dihubungi langsung oleh Duta Besar China mengenai rencana uji coba peluncuran hulu ledak tersebut. Kontak personal ini menegaskan posisi Papua Nugini yang ikut memantau pergerakan armada Beijing.

Informasi serupa diterima oleh otoritas di Wellington. Seorang sumber internal di pemerintahan Selandia Baru membenarkan adanya sinyal peringatan dari China terkait peluncuran rudal balistik antarbenua. Walau demikian, pihak Beijing tidak merinci titik koordinat pasti yang menjadi lokasi jatuhnya rudal penjelajah samudra tersebut. Langkah tertutup ini memicu kegelisahan di koridor pertahanan regional.

Latihan Bersama Rusia dan Lonjakan Hulu Ledak Nuklir Beijing

Unjuk gigi pertahanan udara dan laut ini berjalan beriringan dengan agenda politik militer China lainnya. Peluncuran rudal bertenaga nuklir terlaksana tepat pada hari dimulainya latihan perang angkatan laut gabungan antara China dan Rusia. Manuver bersama dua kekuatan besar ini mengambil lokasi di lepas pantai Qingdao, pusat komando kapal perang utama di wilayah timur China. Meski begitu, pihak militer belum membuka suara apakah penembakan rudal di Pasifik tersebut masuk ke dalam rangkaian simulasi perang dengan Rusia atau berdiri sendiri.

Aktivitas agresif di laut lepas ini menjadi cerminan nyata dari ambisi besar Beijing memperkuat otot militernya. Dokumen Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mencatat, China sudah menguasai lebih dari 500 hulu ledak nuklir operasional per Mei 2023. Jika tren peningkatan belanja pertahanan terus digenjot tanpa rem, negara pimpinan Xi Jinping itu diproyeksikan bakal menimbun lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir aktif pada tahun 2030. Dominasi baru ini dipastikan bakal mengubah peta keamanan di Pasifik yang selama ini dikawal ketat oleh poros Washington, Canberra, dan Wellington.

Type and hit Enter to search

Close