![]() |
| Sebanyak 3.288 warga Israel didampingi pejabat tinggi negara menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa, memicu pembatasan ketat serta kekerasan terhadap jemaah Muslim. | Foto Arsip: Anadolu |
Eskalasi ketegangan kembali pecah di Kota Tua Yerusalem setelah ribuan warga Israel serbu Masjid Al-Aqsa sejak dini hari. Administrasi Wakaf Islam Yerusalem mencatat sebanyak 3.288 orang memasuki area suci tersebut secara paksa. Kelompok ini melakukan ritual keagamaan di depan Kubah Batu serta mengibarkan bendera nasional mereka di halaman kompleks masjid.
Aparat kepolisian setempat menerapkan skema pengamanan ketat dengan membatasi ruang gerak warga Muslim. Akses masuk menuju gerbang Al-Aqsa dan kawasan Kota Tua diperketat untuk mencegah jemaah melaksanakan ibadah. Laporan dari Pemerintah Provinsi Yerusalem mengonfirmasi aparat memukul sejumlah umat Muslim yang sempat masuk untuk melaksanakan salat subuh. Kuota masuk bagi kelompok sayap kanan sengaja diperluas hingga 150 orang per kelompok oleh kepolisian, sementara kelompok ekstremis terus mengonsolidasikan massa dengan target mencapai 5.000 orang di lokasi.
Keterlibatan Pejabat Tinggi dan Pelanggaran Status Quo
Aksi penyerbuan massal kali ini dihadiri langsung oleh jajaran menteri kabinet kepemimpinan Perdana Mementeri Benjamin Netanyahu. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir terpantau berada di lokasi didampingi barisan polisi. Ben-Gvir menyatakan bahwa aktivitas ibadah kelompok Yahudi di area yang mereka sebut Bukit Bait Suci mengalami kemajuan signifikan. Peristiwa ini dinilai sebagai langkah sistematis untuk menegaskan kepemilikan sepihak atas area suci tersebut.
Aksi provokasi dipertegas oleh kehadiran Anggota Parlemen dari Partai Likud, Amit Halevi. Bersama kelompoknya, Halevi mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan di dalam kompleks. Lembaga swadaya masyarakat setempat, Peace Now, mengkritik keras insiden ini lewat pernyataan resminya. Mereka menegaskan aksi tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap status quo wilayah yang selama ini rapuh. Kelompok pembakar konflik ini disebut mendapat dukungan dana serta perlindungan penuh dari figur politik seperti Ben-Gvir, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, dan Menteri Permukiman Orit Strock.
Peringatan Perang Agama dan Desakan Respons Internasional
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menyatakan manuver politik kelompok sayap kanan ini mengeksploitasi momentum hari berkabung Tisha B'Av demi memaksakan pembagian ruang dan waktu di Al-Aqsa. Mantan Mufti Yerusalem sekaligus Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Ikrima Sabri, menegaskan bahwa kepolisian sengaja membiarkan pelanggaran kesucian terjadi. Sabri mendesak dunia Islam internasional untuk mengambil alih tanggung jawab moral guna mempertahankan hak kelola penuh administrasi Wakaf atas wilayah seluas 144 hektar tersebut.
Kepresidenan Palestina secara formal menolak klaim kedaulatan sepihak atas Yerusalem Timur. Di wilayah terpisah, faksi Hamas merilis pernyataan tertulis yang menyebut manuver agresif ini sebagai serangan terang-terangan yang berpotensi menjadi bumerang bagi pihak pendudukan. Guna meredam potensi konflik agama berskala regional, otoritas diplomatik Palestina mendesak Dewan Keamanan PBB, Liga Arab, serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera merumuskan tindakan konkret di lapangan daripada sekadar memublikasikan nota kecaman berkala.
Rentetan Penangkapan Massal di Tepi Barat
Operasi pembatasan di Yerusalem berjalan linier dengan operasi militer di wilayah Tepi Barat bagian utara dan selatan. Kantor Media Tahanan Palestina melaporkan tentara bersenjata menahan 32 warga sipil dalam operasi penggerebekan rumah tangga di Qalqilya, Nablus, Tulkarm, Jenin, dan Betlehem. Di wilayah Nablus, enam orang ditangkap termasuk mantan walikota Adli Yaish, Ala Hasune, serta dua orang anak-anak.
Catatan akumulatif sejak eskalasi konflik meluas pada Oktober 2023 menunjukkan total korban jiwa di Tepi Barat dan Yerusalem Timur telah menembus 1.182 orang sipil tewas. Sebanyak 13.000 orang dilaporkan luka-luka akibat bentrokan langsung, sementara angka penahanan warga Palestina oleh aparat kini telah menyentuh angka 24.000 orang.
Sumber: Anadolu
