![]() |
| Pertamina memperkuat budaya keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan di seluruh rantai bisnis untuk menopang ketahanan energi nasional serta efisiensi operasional. | Foto arsip: Pertamina |
Pertamina perkuat budaya keselamatan kerja dan kepedulian lingkungan di seluruh rantai operasional perusahaan. Penguatan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) ini disiagakan untuk mengawal mandat ketahanan energi nasional di tengah ekspansi lapangan migas.
Langkah ini menjadi perhatian krusial mengingat skala operasional perusahaan melibatkan sekitar 130 ribu pekerja. Pengawasan keselamatan di lapangan diterapkan secara ketat lewat kewajiban penggunaan alat pelindung diri, hak penghentian pekerjaan berisiko (stop work authority), penguatan integritas aset, serta pembinaan rutin terhadap kontraktor.
| Indikator Operasional | Data & Target Perusahaan |
|---|---|
| Proyeksi Pengeboran (Tahun Depan) | >1.000 Sumur Migas |
| Eksplorasi Baru | Penemuan Cadangan Migas di Sumatera Selatan |
| Tenaga Kerja Terlibat | Sekitar 130 Ribu Pekerja |
Target Pengeboran dan Mitigasi Risiko Iklim
Penerapan standar keselamatan kerja berbanding lurus dengan peningkatan target produksi energi. Tahun depan, perusahaan diproyeksikan bakal mengebor lebih dari 1.000 sumur migas. Tren positif ini diimbangi dengan capaian penemuan cadangan migas baru di wilayah Sumatera Selatan.
Komitmen pengelolaan risiko iklim dipaparkan dalam forum HSSE Leadership Forum 2026 bertajuk Managing Climate Risk in Oil & Gas Business: Strengthening Resilience and Sustainability Across the Value Chain di Auditorium PGAS, Jakarta, Rabu (22/7/2026). Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menegaskan bahwa penguatan produksi berjalan bersamaan dengan percepatan dekarbonisasi.
"Kami ingin memastikan seluruh perwira berangkat bekerja dengan sehat dan pulang ke rumah dengan selamat. Kami akan terus memperkuat budaya keselamatan di seluruh lingkungan Pertamina," kata Oki.
Peluang Ekonomi Karbon Sektor Industri
Dalam forum tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyampaikan bahwa isu perubahan iklim membawa peluang bisnis baru bagi sektor usaha nasional. Kekayaan hutan tropis, keanekaragaman hayati, dan kawasan laut Indonesia dapat dioptimalkan melalui skema perdagangan kredit karbon.
Upaya penurunan emisi gas rumah kaca memerlukan partisipasi aktif dunia usaha di luar keterbatasan anggaran pemerintah. Salah satu bentuk aksi nyata tecermin dari rehabilitasi satu hektare hutan mangrove yang mampu menciptakan dampak pemulihan lingkungan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi karbon.
"Climate risk sebetulnya adalah bisnis. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan saya berharap perusahaan-perusahaan Indonesia menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan peluang tersebut," ujar Jumhur.
