Advertisement

IDNWire

Ruang informasi terpercaya untuk pembaca Indonesia

–
|

Kategori

Kategori

Sub Kategori 2

Media Network

Informasi

Connect With Us

News

Barat Butuh US$23,6 Triliun demi Lepas dari Ketergantungan Ekonomi China

Riset terbaru EY-Parthenon menghitung kebutuhan dana investasi hingga US$23,6 triliun bagi negara Barat jika ingin sepenuhnya memutus ketergantungan industri dari China.
Barat Butuh US23,6 Triliun demi Lepas dari Ketergantungan Ekonomi China
Ilustrasi: Upaya AS dan Eropa menyetop ketergantungan industri dari China terbentur biaya jumbo US$23,6 triliun dan ancaman inflasi tinggi. | Foto AI (IDN Wire)
Sedang merangkum artikel secara kilat...
AI Generated

Ambisi blok Barat mengakhiri ketergantungan ekonomi China bakal memicu konsekuensi finansial luar biasa besar. Berdasarkan data yang dikutip dari BigGo Finance lewat laporan eksklusif Financial Times, estimasi modal tambahan yang wajib disiapkan Amerika Serikat, Zona Euro, dan Inggris menembus angka US$23,6 triliun selama 25 tahun ke depan jika ingin memutus rantai pasok dari Negeri Tirai Bambu. Firma konsultan global EY-Parthenon mengalkulasi nominal raksasa tersebut bersumber dari kalkulasi kebutuhan pembangunan infrastruktur baru, aktivitas riset dan pengembangan (R&D), sistem perangkat lunak, fasilitas manufaktur, hingga penataan ulang jaringan logistik terintegrasi.

Secara berkala, pemisahan roda ekonomi ini menuntut alokasi belanja gabungan rata-rata US$940 miliar per tahun hingga menjelang 2050. Skala pengeluaran tahunan tersebut hampir menyamai total suntikan dana korporasi teknologi raksasa Amerika Serikat dalam membangun ekosistem pusat data sepanjang 2025. Perhitungan wilayah menunjukkan Amerika Serikat memegang beban tertinggi dengan kebutuhan US$13,7 triliun. Zona Euro menyusul di angka US$9,1 triliun, sedangkan Inggris memerlukan US$800 miliar. Bagi Uni Eropa, pemenuhan target tahunan ini dipastikan membengkak hingga dua kali lipat dari pagu anggaran belanja rutin mereka saat ini.

Beban Ganda Sektor Publik dan Swasta

Mitra EY-Parthenon sekaligus eks penasihat Kantor Perdana Menteri Inggris, Mats Persson, menjelaskan bahwa skenario melokalisasi industri tanpa memindahkan beban biaya secara masif kepada masyarakat pembayar pajak dan konsumen domestik merupakan persoalan paling rumit yang dihadapi otoritas pemerintahan maupun pelaku bisnis saat ini. Kebutuhan dana US$940 miliar per tahun berstatus sebagai biaya ekstra di luar komitmen anggaran yang berjalan, seperti proyek transisi energi hijau, modernisasi pertahanan, serta perawatan infrastruktur publik.

Kerap rentannya ketahanan pasokan global sempat teruji ketika kebijakan tarif tinggi eks Presiden AS Donald Trump memicu balasan Beijing berupa pembatasan ekspor logam tanah jarang. Ketegangan geopolitik tersebut sempat menghentikan laju operasional pabrikan otomotif Barat sebelum gencatan senjata tarif disepakati. Merespons kerawanan itu, Uni Eropa mulai mempercepat langkah mitigasi melalui skema penimbunan strategis bahan baku industri demi mengamankan sektor manufaktur mereka.

Dominasi Mutlak Bahan Baku Industri

Proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan dominasi mutlak Beijing yang diprediksi masih mengontrol lebih dari 60 persen litium dan kobalt murni, serta mendekati 80 persen pasokan grafit sekaligus unsur tanah jarang untuk kebutuhan baterai global pada 2035. Kepala Ekonom Asia-Pasifik Natixis Prancis, Alicia García-Herrero, menilai pelepasan hubungan industrial ini mustahil terwujud dalam jangka pendek mengingat kendali penuh China pada sektor hulu. Hambatan utama bukan sekadar kesiapan modal, melainkan potensi intervensi Beijing yang memanfaatkan posisi dominan mereka di sektor farmasi serta pemrosesan mineral mentah guna menjegal langkah Barat.

Implikasi Kenaikan Harga Konsumen

Perbedaan harga jual di tingkat pabrikan China yang tercatat 20 persen hingga 100 persen lebih murah daripada buatan kompetitor Barat menjadi pemicu utama potensi guncangan ekonomi baru. EY-Parthenon memproyeksikan perpindahan basis manufaktur secara tergesa-gesa akan mengerek ongkos produksi dan memicu tekanan inflasi berkepanjangan. Selaras dengan proyeksi itu, Bank Sentral Eropa (ECB) memprediksi harga komoditas industri utama di pasar Eropa berisiko terkerek naik sekitar 1 persen hingga 2,5 persen, yang otomatis mempersulit upaya penekanan tingkat inflasi tahunan di bawah batas aman 2 persen.

Persoalan mendasar di lapangan tidak selesai hanya dengan mendirikan bangunan pabrik baru. Negara-negara Barat dituntut menyeimbangkan investasi pada program pelatihan tenaga kerja ahli serta implementasi otomatisasi tingkat tinggi demi mengejar efisiensi kerja yang selama ini dimiliki China. Melihat realitas berat pada rantai pasok mandiri tersebut, pilihan paling rasional bagi korporasi global saat ini adalah menerapkan pemisahan parsial yang difokuskan terbatas pada sektor-sektor paling kritis guna membangun ketahanan internal tanpa merusak stabilitas keuangan perusahaan.

Tags: Ekonomi
Bagikan artikel ini:
IDNWire WhatsApp Channel ✓
IDNWire Resmi

Follow Saluran WhatsApp untuk Notifikasi Berita Terbaru

← Sebelumnya Selanjutnya →

Berita Terbaru

Memuat artikel…

Kurs Rupiah Hari Ini

Dolar A.S. / Rupiah
USDIDR • FX_IDC
Memeriksa...
Advertisement 5