PT Agung Podomoro Land gaet Hankyu Hanshin Properties Corp untuk memperkuat pengembangan proyek hunian premium Bukit Podomoro Jakarta. Upaya strategis emiten properti milik konglomerat Trihatma Kusuma Haliman ini dilakukan melalui pelepasan saham anak usahanya, PT Graha Cipta Kharisma (GCK). Kemitraan strategis lintas negara tersebut dipastikan merubah komposisi kepemilikan modal di dalam internal pengembang kawasan hunian premium tersebut.
Suntikan Modal Asing untuk Bukit Podomoro Jakarta
Dalam skema transaksi ini, raksasa properti asal Jepang tersebut mengambil alih 35,5 persen saham GCK yang semula dikuasai langsung oleh emiten berkode saham APLN. Guna menggenapkan portofolio investasinya, Hankyu Hanshin turut membeli 3,55 persen saham GCK dari tangan PT Kreasi Wahana Nusantara serta mencaplok 1,775 persen saham dari PT Bumi Kirana. Melansir laporan IDN Financials, akumulasi pembelian dari tiga pihak tersebut membuat investor Jepang kini menggenggam total 40,825 persen kepemilikan saham di dalam struktur permodalan pengembang kawasan premium di Jakarta Timur tersebut.
Struktur Kendali Emiten Properti Tetap Kokoh
Kendati porsi kepemilikan modal asing melompat tinggi, arah kebijakan operasional perusahaan dipastikan tidak mengalami pergeseran. Wakil Direktur Utama APLN, Noer Indradjaja, menegaskan penyelesaian seluruh rangkaian transaksi modal ini sama sekali tidak mengubah posisi pemegang kendali utama di tubuh pengembang properti bersangkutan. Korporasi induk masih memegang kendali penuh atas jalannya bisnis properti ini berbekal kepemilikan yang setara dengan 54,825 persen dari seluruh modal yang telah disetor penuh dalam modal anak usaha.
Penyusutan Utang Korporasi dan Rekam Jejak Kemitraan
Masuknya dana segar dari negeri sakura diakui membawa dampak instan yang positif bagi kesehatan finansial korporasi. Manajemen memastikan likuiditas perusahaan akan semakin tebal, yang secara otomatis memberikan ruang gerak lebih luas guna memangkas saldo kewajiban utang yang selama ini berjalan. Noer Indradjaja tidak menjabarkan secara rinci nominal rupiah dari hasil penjualan aset strategis tersebut, namun manajemen memastikan nilainya tidak bersifat material karena berada di bawah batasan 20 persen dari keseluruhan total ekuitas korporasi induk.
Rekam jejak kedekatan kedua entitas bisnis ini sebenarnya bukan barang baru di industri properti tanah air. Berdasarkan data historis, korporasi bentukan Hankyu Hanshin Holdings Inc yang berbasis di Jepang tersebut tercatat pernah melakukan transaksi besar dengan membeli Mall Central Park di Jakarta Barat dari tangan emiten. Kiprah ekspansi bisnis mereka di Asia Tenggara juga terbentang luas, termasuk di antaranya membangun kerja sama erat membentuk perusahaan patungan bersama Grup Sinar Mas demi menggarap kawasan residensial di BSD City.