Executive Summary ▼
- Klaim Korban Militer AS dan Israel: Lebih dari 1.000 tentara Israel dan ratusan personel militer AS tewas dalam perang agresi terbaru dengan Iran.
- Penyensoran Data Korban: Washington dan Tel Aviv dituduh menyembunyikan angka sebenarnya dari publik sebagaimana praktik perang masa lalu di Irak serta Afghanistan.
- Blokade Selat Hormuz: Tehran menegaskan tidak akan membiarkan AS menguasai jalur air strategis Selat Hormuz dan berkomitmen mengusir pasukan AS dari kawasan. Artikel Utama
Agresi militer terbaru terhadap wilayah Iran memakan harga mahal bagi pihak penyerang. Sebagaimana melansir laporan Tasnim News, Juru Bicara Senior Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, menyatakan bahwa korban militer AS dan Israel menembus angka ribuan personel, baik tewas maupun luka-luka.
Shekarchi membeberkan rincian bahwa lebih dari 1.000 anggota militer Israel tewas dalam konflik ini. Pada saat bersamaan, ratusan tentara AS dipastikan gugur dan ribuan lainnya mengalami luka berat akibat pertempuran sengit tersebut.
Tuduhan Sensor Data dan Narasi Hollywood
Militer Iran menilai reputasi angkatan bersenjata Amerika Serikat tak lebih dari "tentara Hollywood" yang cuma mengandalkan propaganda demi menjarah sumber daya di negara-negara Muslim. Shekarchi menegaskan bahwa perang ini meruntuhkan citra kekuatan AS dan Israel di mata dunia, sekaligus menurunkan kepercayaan negara-negara penyedia pangkalan militer terhadap perlindungan Washington.
Pihak Tehran turut menuding Washington dan Tel Aviv sengaja memanipulasi informasi guna menutupi besarnya angka kematian tentara mereka. Menurut Shekarchi, pola penyembunyian fakta ini meniru taktik lama AS saat menyembunyikan jumlah korban tewas pada invasi Irak serta Afghanistan.
Ancaman di Selat Hormuz dan Aksi Balasan
Menanggapi wacana penguasaan jalur maritim vital, Shekarchi memperingatkan Presiden AS dan para sekutunya agar melupakan ambisi mengontrol Selat Hormuz. Iran tidak akan menoleransi kehadiran fisik militer Amerika dan tetap berpegang pada misi utama mengusir seluruh pasukan AS dari kawasan Asia Barat.
Sumpah pembalasan dendam turut ditekankan atas gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, para siswa Sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab, korban jiwa di Lar, hingga seluruh warga sipil yang tewas. Pihak militer menegaskan aksi balasan tersebut pasti dieksekusi tanpa peduli cepat atau lambat.
